KILASJAVA.ID, SURABAYA – Quddus Salam merasakan kebahagiaan mendalam saat resmi diambil sumpahnya sebagai dokter pada prosesi Sumpah Dokter ke-13 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Kamis (28/8/2025).
Bagi pemuda asal Bangkalan itu, momen ini bukan hanya pencapaian akademik, tetapi juga tonggak bersejarah karena ia menjadi dokter pertama di keluarganya.
Sejak remaja, Quddus tidak pernah membayangkan dirinya akan mengenakan jas putih. Semasa SMA, ia lebih tertarik pada bahasa dan bahkan sempat bercita-cita menjadi guru bahasa Arab.
Namun, dorongan orang tuanya yang melihat bakatnya dalam bidang sains, khususnya kimia, akhirnya mengarahkan langkahnya ke dunia kedokteran.
“Awalnya saya hanya mengikuti arahan orang tua, tetapi sekarang saya bersyukur karena bisa menjadi dokter pertama di keluarga,” ujarnya.
Perjalanan Quddus bukan tanpa hambatan. Ada masa ketika ia merasa berat dan sempat meragukan pilihannya.
Namun, titik balik muncul pada semester lima, ketika ia menemukan mata kuliah terkait kesehatan jiwa.
Minat lamanya pada dunia psikologi kembali hidup, membuatnya semakin yakin menekuni profesi dokter.
Latar belakang keluarga Quddus yang religius turut memberi warna dalam pengabdiannya. Ayahnya, seorang kiai sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Al-Muhajirin, Arosbaya, di Bangkalan, menginspirasi Quddus untuk menghadirkan program kesehatan di lingkungan pesantren. Dari situlah lahir Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) yang digagas bersama Unusa sejak 2022.
Poskestren ini menjadi wadah literasi kesehatan berbasis masyarakat pesantren.
Para santri tidak hanya mendapat edukasi tentang pola hidup bersih, gizi seimbang, pencegahan penyakit, hingga pemanfaatan obat tradisional, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik menjaga kesehatan lingkungan.
Program ini dijalankan secara kolaboratif dengan puskesmas, Babinsa, dan berbagai pihak lain, sehingga manfaatnya turut dirasakan masyarakat sekitar.
Quddus menuturkan bahwa kini para santri telah mampu mengelola Poskestren secara mandiri.
Bahkan, ia memperkenalkan sistem pencatatan kesehatan sederhana berbasis digital untuk menumbuhkan budaya dokumentasi medis yang berkelanjutan.
“Alhamdulillah, kesadaran para santri terhadap kesehatan meningkat pesat. Abah saya selalu berpesan agar hidup ini dijalani untuk memberi manfaat bagi sesama,” ungkapnya haru.
Kini, setelah resmi menyandang gelar dokter, Quddus berkomitmen untuk terus memperkuat program Poskestren sekaligus memperluas pengabdian di masyarakat.
Baginya, profesi dokter bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan ibadah dan sarana untuk membawa keberkahan.
***Kunjungi kami di news google KilasJava.id