Example 728x250
Profil

Kisah Inspiratif Lala, Anak Petani Raih Beasiswa KIPK di Surabaya

133
×

Kisah Inspiratif Lala, Anak Petani Raih Beasiswa KIPK di Surabaya

Sebarkan artikel ini
Lala

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Tekad kuat dan doa orang tua menjadi kunci perjalanan Maria Goreti Laura Saina, mahasiswi baru Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) tahun 2025.

Gadis yang akrab disapa Lala ini berasal dari Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, dan kini menempuh studi di Program Studi Gizi Unusa berkat beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK).

Example 300x600

Lala adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga.

Dengan penghasilan keluarga yang tidak menentu dan rata-rata hanya Rp500.000,00 per bulan, perjuangan orang tua Lala untuk menyekolahkan anak-anak mereka tidaklah mudah.

“Mereka hanya lulusan SD, tapi tidak pernah berhenti mendukung pendidikan anak-anaknya. Itu yang membuat saya semangat untuk jadi sarjana pertama di keluarga,” ungkap Lala.

Sejak SMP hingga SMA, Lala menempuh pendidikan di Labuan Bajo dan tinggal bersama saudara karena jarak rumah ke sekolah cukup jauh. Setiap hari ia berjalan kaki sekitar 30 menit menuju sekolah.

Kondisi ini ditempuh dengan sabar karena biaya sekolah di Labuan Bajo lebih terjangkau bagi keluarganya.

Lala awalnya bercita-cita menjadi dokter. Namun seiring waktu, ia menyadari keterbatasan ekonomi keluarganya dan beralih ingin menjadi apoteker. Harapannya sempat pupus ketika gagal lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) di bangku kelas 3 SMA.

“Saat gagal SNBP, saya sempat putus asa. Tapi kemudian mencari informasi lain tentang beasiswa kuliah, sampai akhirnya menemukan KIPK di Unusa,” kenangnya.

Perjalanan Lala menuju Unusa tidak lepas dari keraguan dan cibiran. Beberapa orang menilai sulit baginya diterima karena Unusa mayoritas dihuni mahasiswa muslim. Namun tekad yang bulat membuatnya berani mendaftar.

“Waktu itu ada yang bilang saya tidak mungkin diterima. Tapi ternyata saya bisa lolos, dan hari ini resmi jadi mahasiswa Unusa,” tutur Lala dengan senyum bangga.

Awalnya ia mencoba mendaftar ke program keperawatan dan kebidanan, tetapi tidak memenuhi syarat tinggi badan.

Ia kemudian diarahkan memilih Analis Kesehatan atau Gizi. Atas nasihat orang tua, Lala akhirnya memilih jurusan Gizi meski sempat kecewa karena berbeda dari cita-cita awalnya.

“Awalnya agak sedih, karena impian saya dokter atau apoteker. Tapi orang tua saya meyakinkan bahwa di Gizi juga banyak peluang. Akhirnya saya diterima di Unusa dengan KIPK, itu anugerah besar buat saya dan keluarga,” ujarnya penuh syukur.

Bagi Lala, perjuangan ini bukan semata tentang dirinya, melainkan untuk membalas pengorbanan orang tua.

Ia bertekad memanfaatkan beasiswa dengan sebaik-baiknya demi menyelesaikan kuliah dan menjadi kebanggaan keluarga di kampung halamannya.

“Gunakan setiap bantuan dengan sungguh-sungguh, jangan disia-siakan. Karena di balik itu ada doa dan pengorbanan orang tua yang tidak pernah terlihat,” pesan Lala.

Kisah Lala membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk menempuh pendidikan tinggi.

Dengan semangat, keberanian, dan doa, jalan menuju masa depan terbuka lebar bagi siapa saja yang mau berjuang.

***Kunjungi kami di news google KilasJava.id

Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *