KILASJAVA.ID, SURABAYA – Suara tawa, tepuk tangan, dan kilau kebersamaan memenuhi Ballroom Grand City Mall, lantai 4, Surabaya. Rabu (29/10/2025), sore.
Tanggal 29 Oktober 2025 menjadi momen istimewa bagi Lions Club Surabaya (LCS) Shining, organisasi sosial yang kini genap berusia 12 tahun.
Bagi sebagian orang, usia ini mungkin hanya angka. Tapi bagi keluarga besar LCS Shining, dua belas tahun adalah perjalanan panjang tentang cinta, ketulusan, dan pengabdian yang tak kenal lelah.
Didirikan pada tahun 2013, LCS Shining lahir dari semangat melayani sesama. Selama perjalanannya, organisasi ini tak hanya menyalurkan bantuan, tapi juga membangun harapan.
Dari kegiatan donor darah, santunan anak yatim, pemeriksaan mata gratis, hingga pembangunan fasilitas umum yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya, semuanya dilakukan dengan semangat sukarela tanpa pamrih.
“Selama dua belas tahun ini, kami berupaya menjaga komitmen terhadap lima pilar Lions Club: bakti sosial, layanan kesehatan, pendidikan, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Puspita Dewi Prijadi, Presiden Direktur PT Matahari Sakti sekaligus Past President LCS Shining, dengan nada penuh keyakinan.
Bagi Puspita, pengabdian sosial bukan sekadar kegiatan rutin, tapi panggilan jiwa. Ia percaya bahwa organisasi ini menjadi wadah terbaik untuk menyalurkan kepedulian secara nyata dan terukur.

“LCS Shining ini transparan, kredibel, dan punya ruh kebersamaan yang kuat. Di sini kami bukan hanya rekan sosial, tapi keluarga yang saling menopang,” katanya.
Perayaan ulang tahun kali ini juga menjadi ajang penghargaan bagi para past president dan anggota yang telah berkontribusi dalam membangun fondasi kuat bagi organisasi.
Namun lebih dari sekadar seremoni, acara ini menjadi refleksi perjalanan panjang tentang bagaimana sekelompok orang bisa menjaga komitmen kemanusiaan di tengah kesibukan masing-masing.
Lilies Sugianto, salah satu pengurus aktif, tak menampik bahwa perjalanan mempertahankan semangat sosial di antara 235 anggota bukan hal mudah. Tapi, katanya, semangat itu tetap hidup karena mereka punya satu nilai yang sama: memberi tanpa mengharap kembali.
“Dua belas tahun ini adalah bukti bahwa kebaikan bisa menular. Kami semua datang dari latar belakang berbeda, tapi punya hati yang sama untuk melayani,” ucapnya.
Tahun ini, LCS Shining menaruh perhatian khusus pada sektor pendidikan. Mereka sedang menggalang dukungan untuk membangun laboratorium sekolah bagi anak-anak pemulung di Surabaya.
“Sekolah ini gratis, tapi sangat minim fasilitas. Ada ruang kelas tanpa bangku, tanpa laboratorium. Kami ingin memperjuangkan itu, karena pendidikan adalah hak semua anak,” ujar Lilies, matanya berbinar penuh empati.
Bagi LCS Shining, pendidikan bukan sekadar proyek sosial, tapi investasi kemanusiaan jangka panjang. Mereka percaya bahwa setiap anak berhak atas kesempatan belajar, karena dari situlah masa depan bangsa dibangun.

Kemeriahan HUT ke-12 LCS Shining pun semakin terasa dengan kehadiran tamu kehormatan seperti Hoo Wen Tjin/Heru Budihartono, yang ikut memberikan apresiasi atas kiprah sosial organisasi ini.
Namun di balik gegap gempita perayaan, semangat yang paling kuat justru adalah kehangatan antaranggota yang saling mendoakan agar tetap sehat, tetap kuat, dan terus menebar manfaat.
“Usia boleh bertambah, tapi semangat harus tetap muda,” ujar Puspita Dewi sambil tersenyum. “Kami semua sudah tidak muda lagi, tapi selagi tubuh masih diberi kekuatan, kami akan terus bergerak untuk sesama.”
Lions Club Surabaya Shining memang bukan organisasi besar dengan gegap gempita pemberitaan, tapi langkah-langkah kecil mereka sudah meninggalkan jejak berarti.
Jejak yang tak hanya terlihat di jalan-jalan kota Surabaya, tapi juga di hati orang-orang yang pernah mereka bantu.
Dua belas tahun telah berlalu, dan LCS Shining terus menyala, bukan karena kemewahan, melainkan karena cahaya ketulusan yang tak pernah padam.













