Example 728x250
Pendidikan

Beasiswa KIP-K Unusa, Jalan Baru Generasi Muda Kedokteran

158
×

Beasiswa KIP-K Unusa, Jalan Baru Generasi Muda Kedokteran

Sebarkan artikel ini
unusa

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) terus menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan akses pendidikan tinggi bagi semua kalangan, tanpa terkecuali.

Melalui jalur beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), Unusa membuka peluang bagi generasi muda dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, termasuk ke Fakultas Kedokteran yang dikenal memerlukan biaya besar.

Example 300x600

Rektor Unusa, Prof. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng., menuturkan bahwa kuota KIP-K yang diterima setiap perguruan tinggi berbeda, sesuai kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

“Tahun ini, Unusa mendapatkan kesempatan untuk pertama kalinya menerima lima mahasiswa KIP-K di Fakultas Kedokteran. Ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar bagi kami,” jelasnya.

Salah satu mahasiswa penerima beasiswa adalah Putri Yanti asal Muara Enim, Sumatera Selatan.

Setelah lulus SMA pada 2023, ia harus menunggu dua tahun sebelum akhirnya bisa meraih kursi di Fakultas Kedokteran Unusa.

Selama masa itu, Putri berkali-kali gagal dalam seleksi masuk perguruan tinggi, baik jalur nasional maupun mandiri.

“Saya sampai bekerja untuk membantu ibu yang berdagang dengan penghasilan tidak menentu. Tapi di 2024 saya berhenti kerja supaya bisa fokus belajar untuk SNBT. Sayangnya, tetap belum berhasil,” kenangnya.

Hampir putus asa, Putri akhirnya menemukan informasi mengenai KIP-K Unusa. Dari situlah harapan baru muncul.

“Alhamdulillah lolos. Dari kecil saya bermimpi jadi dokter, bahkan ingin menjadi dokter spesialis kandungan. Beasiswa ini benar-benar hadiah terbesar untuk saya, ibu, dan adik saya,” ungkapnya dengan penuh syukur.

Cerita perjuangan lain datang dari Anjhely Andreani, mahasiswa asal Prabumulih, Sumatera Selatan.

Tekadnya menjadi dokter lahir dari kondisi keterbatasan layanan kesehatan di daerah asalnya.

“Di kecamatan kami yang penduduknya ribuan, hanya ada satu dokter. Bahkan bidan pun hanya dua orang di satu desa. Hal ini membuat saya bercita-cita jadi dokter, supaya bisa membantu masyarakat,” ujarnya.

Meski sejak kecil hidup dalam keterbatasan, terutama setelah kedua orang tuanya berpisah dan ayahnya tak lagi hadir dalam keluarga, semangat Anjhely tetap menyala.

“Saya sempat berpikir tidak perlu kuliah. Tapi dukungan dari ibu dan semangat teman-teman membuat saya kembali percaya diri untuk melanjutkan pendidikan,” tambahnya.

Sementara itu, Zahrotul Aini asal Situbondo, Jawa Timur, menjadikan keluarganya sebagai alasan terbesar untuk berjuang.

Meski sadar biaya kuliah kedokteran sangat tinggi, ia mendapatkan dukungan penuh dari ayahnya untuk tetap melanjutkan pendidikan.

Tekad Zahrotul semakin bulat ketika sang ibu divonis mengidap hiperglikemia. “Sejak saat itu saya semakin yakin ingin menjadi dokter. Saya ingin membantu ibu, juga masyarakat di sekitar saya yang membutuhkan,” katanya.

Bagi Zahrotul, profesi dokter bukan sekadar pekerjaan, tetapi amanah kemanusiaan.

“Menjadi dokter itu bukan hanya soal menyembuhkan, tapi juga mendengarkan, memahami, dan memberi empati kepada pasien dari berbagai latar belakang,” jelasnya.

Kisah Putri, Anjhely, dan Zahrotul mencerminkan bagaimana keterbatasan tidak pernah menjadi penghalang bagi mereka yang memiliki tekad kuat.

Program KIP-K di Unusa menjadi jalan baru bagi anak-anak bangsa untuk mewujudkan cita-cita luhur di bidang kedokteran.

Bagi Unusa, hadirnya mahasiswa penerima KIP-K di Fakultas Kedokteran bukan hanya pencapaian administratif, tetapi juga wujud tanggung jawab moral untuk menyiapkan tenaga kesehatan yang berdaya guna bagi bangsa.

***Kunjungi kami di news google KilasJava.id

Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *