Example 728x250
Pendidikan

Unusa Kukuhkan 4.875 Mahasiswa Baru, Cetak Generasi Unggul Menuju Indonesia Emas

343
×

Unusa Kukuhkan 4.875 Mahasiswa Baru, Cetak Generasi Unggul Menuju Indonesia Emas

Sebarkan artikel ini
Unusa

Ia menggambarkan perjalanan mahasiswa seperti proses melukis kehidupan.

“Hari ini kalian mulai melukis masa depan. Lukisan itu bisa diperbaiki, direvisi, hingga menjadi karya indah hasil jerih payah kalian. PKKMB membantu kalian beradaptasi dengan dunia kampus dan membangun visi dengan pijakan nilai moral dan agama,” tutur Rektor.

Example 300x600

Prof. Jazidie juga menegaskan bahwa pembelajaran di Unusa tidak hanya fokus pada hardskill, tetapi juga penguatan softskill melalui kegiatan intra dan ekstrakurikuler.

“Mahasiswa Unusa harus membangun habit untuk terus mengembangkan potensi terbaiknya, baik di dalam kelas maupun di luar kelas,” tandasnya.

Sebagai rangkaian PKKMB, digelar kuliah tamu oleh Direktur Utama Alvara Research Center, Hasanuddin Ali, dengan tema Understanding Indonesia Today and Tomorrow.

Ia menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Hasanuddin menyebut Indonesia saat ini tengah berada pada momentum bonus demografi. Berdasarkan Sensus Penduduk 2020, mayoritas masyarakat Indonesia adalah generasi muda, terdiri dari Gen Z dan sebagian milenial.

“Gen Z itu ibarat anak kandung internet. Mereka sangat dekat dengan dunia digital dan media sosial dengan rata-rata penggunaan internet lebih dari delapan jam per hari,” jelasnya.

Namun, menurutnya, transformasi digital juga membawa tantangan. Fenomena kecanduan internet, maraknya pinjaman online (pinjol), hingga perjudian online (judol) menjadi risiko yang harus diantisipasi.

Ia menekankan pentingnya penggunaan teknologi secara cerdas, terutama dalam menghadapi era industri 4.0 dan perkembangan kecerdasan buatan.

“Jadikan AI sebagai alat berkolaborasi, bukan pengendali diri kita,” pesannya.

Hasanuddin juga menyoroti kesenjangan antar generasi yang kerap menimbulkan stigma. Gen Z dianggap kurang loyal, sementara Gen X dinilai sulit beradaptasi dengan zaman. Ia menegaskan bahwa stigma tersebut tidak tepat.

“Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya. Kita harus mampu beradaptasi,” ucapnya.

Berdasarkan hasil survei, ia menyebut ada tiga tipe anak muda saat ini: social butterfly (16,06%), digital junky (39,7%), dan slow living (44,7%).

Menurutnya, ketiga tipe ini harus saling berkolaborasi karena masing-masing memiliki keunggulan untuk mendukung keberhasilan Indonesia di masa depan.

“Indonesia adalah zamrud khatulistiwa yang harus kita rawat dan isi dengan karya-karya kita. Anak muda adalah penentu tercapainya Indonesia Emas 2045,” tutup Hasanuddin.

Dengan pengukuhan mahasiswa baru tahun ini, Unusa semakin meneguhkan posisinya sebagai perguruan tinggi yang berkomitmen melahirkan generasi unggul, berdaya saing global, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Example 468x60 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *