KILASJAVA.ID, SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) resmi memasuki babak baru kepemimpinan. Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (YARSIS) melantik Prof. Dr. Ir. Triyogi Yuwono, DEA, IPU, ASEAN.Eng., sebagai Rektor Unusa periode 2025–2030.
Pelantikan berlangsung khidmat di Auditorium Lantai 9 Unusa Tower Kampus B, Sabtu (25/10) sore, dipimpin langsung oleh Ketua YARSIS, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA.
Momen tersebut juga menjadi ajang penghargaan dan perpisahan bagi Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng., yang telah mengabdikan diri selama dua periode sebagai rektor. Di bawah kepemimpinannya, Unusa tumbuh menjadi salah satu perguruan tinggi swasta Islam terkemuka di Jawa Timur dengan lebih dari 85 persen program studi berakreditasi unggul.
Dalam sambutannya, Prof. Mohammad Nuh menyampaikan bahwa pergantian rektor bukanlah bentuk pergantian arah, melainkan kesinambungan cita-cita lembaga. Ia menegaskan, estafet kepemimpinan adalah bagian dari proses kematangan institusi.
“Pergantian pemimpin bukan berarti perubahan arah, tetapi kesinambungan pembangunan. Tantangan ke depan justru semakin kompleks dan memerlukan kepemimpinan yang mampu membaca zaman,” ujar mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI itu.
Prof. Nuh juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada Prof. Achmad Jazidie atas dedikasi selama satu dekade membangun Unusa. “Dalam 10 tahun terakhir, prestasi Unusa tumbuh jauh melampaui usianya. Capaian-capaian akademik dan pengabdian masyarakat yang diraih adalah warisan yang tak terbantahkan,” ungkapnya.
Ia pun berpesan agar kepemimpinan Prof. Triyogi dapat melanjutkan capaian tersebut dengan semangat kolaboratif dan inovatif. “Prof. Triyogi bukan hanya melanjutkan, tapi juga memperkuat fondasi agar Unusa semakin berdampak bagi masyarakat luas,” tambahnya.
Triyogi Yuwono: Unusa Harus Hadir untuk Masyarakat
Usai dilantik, Prof. Triyogi Yuwono menyampaikan komitmennya untuk menjadikan Unusa sebagai kampus yang hadir dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya dituntut untuk unggul secara akademik, tetapi juga harus berkontribusi nyata terhadap kehidupan sosial dan pembangunan berkelanjutan.
“Unusa harus menjadi agen perubahan sosial. Kami akan mengarahkan seluruh potensi akademik dan inovasi agar benar-benar dirasakan masyarakat. Kampus bukan menara gading, tapi jembatan kemajuan,” ujarnya.
Prof. Triyogi menegaskan, arah pembangunan Unusa sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya dalam tiga bidang utama: kesehatan, pendidikan, dan lingkungan.
“Dalam SDGs-3 tentang kesehatan, Unusa sudah masuk peringkat dunia THE Impact Rankings di posisi 601–800. Ini bukan akhir, tapi awal untuk memperkuat riset, kerja sama, dan inovasi lintas sektor,” jelasnya.
Salah satu inovasi unggulan yang akan dikembangkan adalah Mobile Unusa Water, program sosial yang mendukung ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Program ini menjadi wujud nyata keterlibatan Unusa dalam SDGs-6 tentang air bersih dan sanitasi layak.
Strategi GRIT untuk Membangun Keunggulan
Sebagai rektor baru, Prof. Triyogi memperkenalkan strategi pengembangan Unusa dengan konsep GRIT: Growth, Reinforce, Impact, Transformation.
Growth (Pertumbuhan) diarahkan pada peningkatan kapasitas institusi dengan dukungan kuat dari jamaah Nahdlatul Ulama.
Reinforce (Penguatan) difokuskan pada mutu akademik, mahasiswa, alumni, serta jejaring kerja sama global.
Impact dan Transformation menjadi roh dari kepemimpinannya, yakni menciptakan hasil nyata dan perubahan berkelanjutan melalui inovasi riset dan produk unggulan.
“Saya ingin pada 2030 jumlah mahasiswa Unusa mencapai delapan ribu orang, dan sepuluh persen pendapatan kampus tidak lagi bersumber dari mahasiswa, tetapi dari inovasi dan kerja sama strategis,” tegasnya.
Guru besar bidang konversi energi dan mantan Rektor ITS periode 2011–2015 ini menilai, capaian internasional seperti ranking dunia hanyalah konsekuensi dari manajemen mutu yang baik.
“Peringkat bukan tujuan, tapi hasil dari kualitas yang terjaga. Fokus utama kita tetap pada mutu, inovasi, dan dampak,” ujarnya mantap.
Visi Digital dan Internasionalisasi Unusa
Dalam lima tahun ke depan, Prof. Triyogi berkomitmen membawa Unusa menuju identitas baru sebagai The Islamic Digital Health & Education University. Konsep ini mengintegrasikan kekuatan Unusa dalam bidang kesehatan, digitalisasi, pendidikan, dan nilai-nilai Islam.
Langkah strategis akan diarahkan pada pengembangan program internasional seperti beasiswa mahasiswa asing muslim, pertukaran dosen, dan visiting professor series. Semua itu bertujuan memperluas jejaring akademik sekaligus memperkuat posisi Unusa dalam peta global pendidikan tinggi.
“Harapan saya, diversitas kampus semakin tinggi dan interaksi internasional semakin luas. Ini bagian dari upaya Unusa untuk menjadi kampus Islam modern yang berdampak global,” tutur Prof. Triyogi.
Dengan visi yang matang dan strategi yang terukur, Unusa menatap periode baru kepemimpinan Prof. Triyogi Yuwono sebagai momentum menuju kampus unggul, berdaya saing global, dan berperan nyata dalam pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
***Kunjungi kami di news google KilasJava.id













