KILASJAVA.ID, SIDOARJO – Pesantren tak hanya menjadi pusat pembentukan karakter dan spiritualitas, tetapi kini juga digerakkan menjadi benteng ketahanan mental generasi muda. Upaya ini diwujudkan melalui Kampanye Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP), hasil kolaborasi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan, dan Center for Public Mental Health (CPMH).
Program P3LP melibatkan lima pondok pesantren di Kabupaten Sidoarjo—Ponpes Al Hidayah, As-Syafiiyah, Jabal Noer, Burhanul Hidayah, dan Mambaul Ulum Panjunan—yang menjadi pionir dalam membangun budaya sadar kesehatan mental di lingkungan pendidikan berbasis pesantren.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, dr. Imran Pambudi, MPHM., menjelaskan bahwa kesehatan jiwa adalah elemen penting dalam produktivitas bangsa.
“Populasi usia produktif di Indonesia mencapai hampir 70 persen dari total penduduk, dan sebagian besar berada di lingkungan pendidikan. Tekanan akademik, sosial, serta budaya kompetitif bisa menimbulkan distress bila tidak dikelola dengan baik,” ujarnya.
Melalui program ini, kata dr. Imran, pesantren diharapkan menjadi ruang aman bagi santri untuk memahami, mengekspresikan, dan mengelola emosi dengan sehat.
“Kemenkes melihat kerja sama dengan Unusa ini sebagai langkah strategis dalam membangun pesantren yang ramah kesehatan mental,” tambahnya.
Dosen Fakultas Kedokteran Unusa, dr. Paramita Sari, M.Sc., yang menjadi salah satu narasumber kegiatan, menyoroti pentingnya memahami psikologi remaja pesantren. Ia menegaskan bahwa masa remaja adalah fase rawan—penuh pencarian jati diri, tuntutan akademik, dan tekanan sosial.
“Remaja di pesantren menghadapi tantangan tersendiri. Mereka perlu dukungan yang sensitif terhadap nilai-nilai pesantren, agar mampu mengelola stres dan luka batin sebelum berkembang menjadi gangguan psikologis,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, para santri, pengasuh, dan tenaga pendidik mendapat pelatihan dasar pertolongan pertama pada luka psikologis, termasuk simulasi penanganan kasus, pembentukan konselor sebaya, dan jejaring pendamping kesehatan mental yang terhubung dengan fasilitas layanan kesehatan.
Dekan Fakultas Kedokteran Unusa, Dr. Handayani, dr., M.Kes., menyebut kegiatan ini sebagai langkah nyata dalam membangun ketahanan mental di komunitas pesantren.
“Pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga wadah pembentukan karakter dan daya tahan psikologis. Dengan mental yang sehat, santri dapat tumbuh menjadi generasi berdaya dan berempati,” tuturnya.
Ia menambahkan, inisiatif ini sejalan dengan visi Unusa untuk memberdayakan masyarakat melalui pendidikan dan pengabdian yang berbasis kesehatan dan kemanusiaan.
“Kami berkomitmen menghadirkan perguruan tinggi yang peduli terhadap isu-isu sosial dan kesehatan, terutama di komunitas pesantren. Kegiatan ini juga bagian dari dukungan Unusa terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 3) tentang Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan,” imbuhnya.
Unusa percaya, sinergi antara akademisi, pemerintah, dan lembaga pesantren merupakan kunci menciptakan sistem pendidikan yang tidak hanya menyehatkan akal dan spiritualitas, tetapi juga mental dan sosial peserta didik.
Program P3LP yang digelar di lima pesantren di Sidoarjo ini menjadi cikal bakal gerakan nasional pesantren sehat mental.
Melalui edukasi, pelatihan, dan pendampingan berkelanjutan, pesantren diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang suportif, inklusif, dan menenangkan bagi seluruh warganya.
Lebih dari sekadar kegiatan sosial, kampanye ini merupakan upaya strategis untuk memperkuat ketahanan mental generasi muda Indonesia. Dengan kolaborasi lintas sektor, Unusa optimistis pesantren dapat menjadi model pendidikan yang menumbuhkan keseimbangan antara kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosional; pondasi penting menuju Indonesia sehat jiwa dan raga.
***Kunjungi kami di news google KilasJava.id













