KILASJAVA.ID, BANGKALAN – Ketika angka stunting di sejumlah wilayah Jawa Timur masih mengkhawatirkan, Desa Parseh di Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, tampil dengan inisiatif berbeda.
Desa yang berjarak sekitar 31 kilometer dari Surabaya ini mulai bergerak dengan strategi berbasis edukasi keluarga untuk mencegah stunting sejak dini, khususnya pada masa krusial 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Program ini digagas oleh tim dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) dan Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Sinergi Pemberdayaan Keluarga dengan Tim Pendamping Keluarga dalam Upaya Pencegahan Stunting di Masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Kegiatan ini didukung pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia tahun 2025.
Dukungan tersebut mencerminkan keseriusan pemerintah dalam memperkuat peran masyarakat dan akademisi dalam menekan angka stunting secara nasional.
Rendahnya literasi kesehatan keluarga menjadi salah satu faktor yang memperparah kasus stunting di Bangkalan. Banyak keluarga di Desa Parseh belum memahami pentingnya gizi seimbang, perawatan ibu hamil, serta pemantauan tumbuh kembang anak.
“Stunting bukan hanya persoalan kurang makan, tetapi juga soal kurangnya pemahaman,” ujar Dr. Ika Mardiyanti, S.ST., Bdn., M.Kes, ketua tim PkM UNUSA.
Bersama Dr. dr. Wiwik Winarningsih, M.Kes, dan Krisnita Dwi Jayanti, S.KM., M.Epid, tim PkM memberikan pelatihan kepada Tim Pendamping Keluarga (TPK), calon pengantin, ibu hamil, dan ibu balita.
Materi yang disampaikan mencakup pencegahan stunting sejak masa pra-nikah, pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), pelatihan pijat tuina, serta pemantauan tumbuh kembang anak secara berkala.
“Melalui pelatihan ini, kami ingin menumbuhkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam menjaga kesehatan keluarga. Pencegahan stunting harus dimulai dari rumah, dan peran keluarga menjadi kunci utama,” jelas Ika.
Selain edukasi, tim juga mengembangkan program DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) sebagai solusi praktis bagi ibu rumah tangga dalam menyiapkan menu bergizi seimbang.
Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran gizi dan memperkuat ketahanan pangan keluarga di tingkat desa.
Sekretaris Dinas KBP3A Kabupaten Bangkalan, Eri Yadi Santoso, SE., MM, mengungkapkan bahwa meskipun angka stunting di Bangkalan sempat turun dari 38,9 persen pada 2021 menjadi 10 persen pada 2023, namun tahun 2024 kembali meningkat menjadi 17,7 persen.
“Kami menargetkan tahun 2025 turun di bawah 14,7 persen. Program edukasi seperti ini sangat penting untuk mendukung target tersebut,” tegasnya.
Kepala Desa Parseh, Moh. Ilyas, S.AP, menyampaikan rasa terima kasihnya atas terlaksananya kegiatan ini.
“Kami sangat berterima kasih kepada tim dosen dan pemerintah yang telah menjadikan desa kami sebagai lokasi program. Kami berkomitmen melanjutkan kegiatan ini melalui stunting corner dan pelatihan lanjutan untuk masyarakat,” ujarnya.
Program PkM ini tidak hanya menjadi bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah, tetapi juga menjadi wujud nyata implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Program ini mendukung poin 2 tentang tanpa kelaparan, poin 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, serta poin 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan.
Menurut Ika Mardiyanti, pencegahan stunting merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
“Anak yang tumbuh sehat dan cerdas adalah modal sosial bangsa. Melalui pemberdayaan keluarga dan edukasi berkelanjutan, kami berharap Desa Parseh menjadi inspirasi bagi daerah lain,” tuturnya.
Sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat di Desa Parseh menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil, yaitu memberikan pengetahuan, melatih keterampilan, dan menumbuhkan kesadaran untuk membangun generasi yang lebih sehat dan kuat.
***Kunjungi kami di news google KilasJava.id













