Selain itu, Badan POM dilibatkan khusus untuk menilai proyek yang berkaitan dengan obat-obatan dan makanan. Umi menegaskan bahwa pada penyelenggaraan tahun ini, terdapat penguatan berupa tindak lanjut dan refleksi mendalam atas masukan panelis. Masukan tersebut diharapkan menjadi pijakan penyempurnaan proyek yang telah dirancang siswa.
Total terdapat 20 kelompok karya siswa. Di antaranya, 13 proyek berbasis teknologi, 3 karya terkait obat-obatan, 1 karya berbasis kosmetik dan obat, 3 inovasi lingkungan, serta 1 proyek teknologi pangan.
Keberagaman ini mencerminkan luasnya minat dan kemampuan siswa dalam merespons isu-isu kontemporer melalui riset sederhana.
Umi berharap penyelenggaraan ini mampu menumbuhkan dimensi profil pelajar yang berorientasi pada 4C (Critical Thinking, Communication, Collaboration, dan Creativity). Kompetensi tersebut disebut sebagai fondasi penting di era abad 21.
Ia menutup dengan pesan agar pengalaman belajar yang diperoleh melalui kegiatan ini dapat melekat dalam ingatan para siswa.
Tidak hanya memahami konsep pembelajaran mendalam, tetapi juga menerapkan dan merefleksikannya.

Setiap aktivitas akademik, menurutnya, harus berujung pada evaluasi dan rencana tindak lanjut agar memiliki dampak jangka panjang pada kesiapan siswa menjadi generasi kreatif dan membanggakan.
Ajang ini memiliki nilai strategis bagi pengembangan kapasitas intelektual dan karakter siswa.
Pembelajaran berbasis proyek memungkinkan siswa mengalami proses belajar yang otentik, mulai dari merumuskan masalah, mengeksekusi ide, hingga mempresentasikan solusi di hadapan panelis profesional.
Konteks ini memperkuat kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi efektif, dan kerja kolaboratif.
Pelibatan institusi seperti ITS, PENS, Badan POM, dan Dinas Lingkungan Hidup memberi pengalaman nyata tentang standar ilmiah dan profesional yang akan mereka hadapi di jenjang lebih tinggi.
Selain itu, kegiatan ini juga menumbuhkan rasa percaya diri, memupuk keberanian intelektual, dan menanamkan budaya refleksi akademik yang penting bagi pembentukan karakter pelajar abad 21.
Di akhir, Umi menambahkan, bagi sekolah, ajang ini sekaligus menjadi barometer kualitas pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Sementara bagi siswa, kegiatan ini menjadi pijakan awal untuk memahami bahwa inovasi bukan sekadar tugas sekolah, melainkan kontribusi kecil yang bisa berdampak besar bagi masyarakat.













