Example 728x250
Pendidikan

Dapur PMBA Unusa di Bireuen, Strategi Perlindungan Gizi Bayi dan Anak Pascabencana

58
×

Dapur PMBA Unusa di Bireuen, Strategi Perlindungan Gizi Bayi dan Anak Pascabencana

Sebarkan artikel ini

KILASJAVA.ID, ACEH – Pemenuhan gizi bayi dan anak menjadi salah satu tantangan utama dalam fase pemulihan pascabencana. Ketika infrastruktur rusak dan layanan kesehatan terganggu, kelompok masyarakat rentan kerap menghadapi risiko gizi buruk yang berlapis.

Menjawab tantangan tersebut, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) membangun Dapur Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) di wilayah Pantee Lhong, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.

Example 300x600

Pembangunan Dapur PMBA ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan Unusa bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen.

Program ini dirancang untuk memperkuat layanan kesehatan dasar, memastikan pemenuhan gizi yang sesuai standar, serta meningkatkan praktik sanitasi yang aman bagi kelompok rentan, khususnya bayi, anak-anak, ibu hamil dan menyusui, lansia, serta penyandang disabilitas.

Program tersebut mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), sebagaimana tercantum dalam Surat Pengumuman Nomor 1737/C3/AL.04/2025.

Dukungan ini menegaskan kepercayaan pemerintah terhadap kontribusi perguruan tinggi dalam penguatan sistem kesehatan masyarakat, khususnya pada konteks kebencanaan.

Dapur PMBA Unusa dirancang tidak semata sebagai fasilitas penyedia makanan. Lebih jauh, dapur ini berfungsi sebagai pusat layanan gizi terpadu yang menekankan aspek keamanan pangan, kecukupan nutrisi, serta praktik sanitasi yang baik.

Dalam situasi pascabencana, keberadaan dapur semacam ini menjadi krusial untuk mencegah meningkatnya risiko stunting, gizi buruk, dan penyakit infeksi pada bayi dan anak.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unusa, Achmad Syafiuddin, S.Si., M.Phil., Ph.D., menekankan bahwa pembangunan Dapur PMBA berangkat dari perspektif keadilan sosial dan perlindungan hak dasar kelompok rentan.

Kelompok masyarakat rentan kerap menjadi pihak yang paling terdampak dalam situasi krisis, namun sering kali berada di lapis terakhir penerima layanan. Melalui Dapur PMBA, Unusa ingin memastikan bahwa pemenuhan gizi dan kesehatan bayi serta anak tetap menjadi prioritas, meskipun berada dalam kondisi darurat, ujarnya.

Menurutnya, pendekatan yang diterapkan Unusa bersifat berkelanjutan. Penyediaan fasilitas fisik hanya menjadi tahap awal dari proses penguatan kapasitas masyarakat.

Tim Unusa juga melakukan edukasi gizi, pendampingan praktik pemberian makanan bayi dan anak yang tepat, serta penguatan peran kader dan masyarakat lokal agar mampu mengelola dapur secara mandiri.

Kolaborasi dengan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat setempat menjadi fondasi penting keberhasilan program. Dengan pendekatan kolaboratif tersebut, Dapur PMBA diharapkan dapat berfungsi tidak hanya saat bencana terjadi, tetapi juga dalam kondisi normal sebagai pusat layanan gizi berbasis komunitas.

Achmad Syafiuddin yang juga menjabat sebagai Ketua Center for Environmental Health of Pesantren (CEHP) Unusa menambahkan, Dapur PMBA ini mengusung pendekatan inklusif dalam penanganan kesehatan masyarakat.

Selain menyediakan makanan bergizi, dapur ini menjadi ruang edukasi dan pemulihan, baik secara fisik maupun psikososial, khususnya bagi ibu dan anak.

Program ini sekaligus mempertegas peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan sosial. Integrasi antara keilmuan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi fondasi Unusa dalam menghadirkan solusi yang relevan dan berdampak nyata, katanya.

Ke depan, Unusa berharap model Dapur PMBA di Kabupaten Bireuen dapat direplikasi di wilayah lain yang memiliki kerentanan bencana serupa.

Dengan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat, upaya perlindungan kelompok rentan diharapkan dapat berjalan lebih sistematis, berkelanjutan, dan berorientasi pada penguatan ketahanan kesehatan jangka panjang.

Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *