KILASJAVA.ID, BIREUEN – Pascabencana, ancaman kesehatan pada anak-anak kerap datang diam-diam: dari penyakit menular akibat sanitasi darurat hingga tekanan psikologis yang tak selalu tampak.
Situasi inilah yang menjadi perhatian tim Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) saat melakukan pendampingan promosi kesehatan bagi anak-anak terdampak bencana di Kabupaten Bireuen, Aceh.
Pendampingan dipimpin oleh Dwi Handayani, S.KM., M.Epid, dosen sekaligus Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat (Kesmas) UNUSA.
Kegiatan ini difokuskan pada penguatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta dukungan psikososial bagi anak-anak, sebagai bagian dari upaya membangun kembali ketahanan komunitas pascabencana.
Kegiatan berlangsung di Balai Majelis Pantee Lhong dan disambut antusias oleh masyarakat setempat.
Sebelum pelaksanaan di lapangan, tim UNUSA terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen dan Puskesmas Peusangan.
Koordinasi ini menjadi kunci agar intervensi yang dilakukan selaras dengan program kesehatan daerah dan memiliki peluang keberlanjutan.
Sebagai bentuk dukungan konkret, tim menyerahkan berbagai media promosi kesehatan, mulai dari lembar balik, leaflet, hingga buku berisi pesan PHBS dalam situasi kedaruratan.
Selain itu, sarana cuci tangan pakai sabun juga diberikan untuk mendukung penerapan PHBS secara berkelanjutan di tingkat kecamatan.
Edukasi kesehatan kemudian diberikan kepada sekitar 50 anak yang berada di Posko Pantee Lhong.
Materi disampaikan dengan pendekatan komunikatif dan mudah dipahami anak-anak, menyoroti pentingnya kebersihan diri untuk mencegah penyakit menular seperti diare dan infeksi saluran pernapasan yang rawan muncul di lingkungan pengungsian.
Alih-alih metode ceramah, edukasi dikemas secara interaktif. Anak-anak diajak mempraktikkan cuci tangan pakai sabun sambil bernyanyi bersama.
Pendekatan ini mendorong partisipasi aktif sekaligus membantu anak-anak mengingat dan membiasakan perilaku sehat melalui pengalaman yang menyenangkan.
Aspek pemulihan psikososial juga mendapat perhatian serius. Tim UNUSA mengajak anak-anak mengikuti kegiatan mewarnai gambar dengan tema-tema positif, seperti olahraga, menjaga kebersihan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Aktivitas ini dirancang untuk membantu meredakan trauma, menumbuhkan rasa aman, serta memberi ruang ekspresi emosi bagi anak-anak yang terdampak bencana.
Selama kegiatan berlangsung, anak-anak terlihat lebih terbuka, ceria, dan aktif berinteraksi. Tawa dan cerita yang dibagikan menjadi penanda perubahan suasana hati yang lebih stabil, sekaligus indikasi awal pemulihan psikososial.
Hasil kegiatan menunjukkan dampak yang cukup signifikan. Sebanyak 50 anak menerima edukasi PHBS secara langsung, dengan sekitar 80 persen terlibat aktif dalam praktik cuci tangan pakai sabun.
Tim juga mencatat peningkatan pemahaman anak-anak terhadap perilaku hidup bersih dan sehat serta berkurangnya tanda-tanda stres ringan, seperti kecemasan berlebih.
Distribusi media promosi kesehatan diharapkan dapat dimanfaatkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen untuk mereplikasi kegiatan serupa di wilayah lain.
Dalam jangka panjang, pendekatan ini diharapkan mampu menekan risiko penyakit menular di posko pengungsian sekaligus memperkuat daya lenting anak-anak sebagai kelompok rentan pascabencana.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan bagian dari program penanganan kesehatan, gizi, dan sanitasi bagi kelompok rentan di Kabupaten Bireuen, Aceh.
Program tersebut didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), berdasarkan surat pengumuman Nomor 1737/C3/AL.04/2025.
***Kunjungi kami di news google KilasJava.id













