Menurut Inggriette, kegiatan ini dirancang sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs).
Mahasiswa internasional yang menempuh studi teknologi dan sains di ITS diajak untuk memahami bahwa kemajuan ilmu pengetahuan perlu berjalan beriringan dengan penghargaan terhadap budaya dan nilai lokal.
Dalam sesi pembelajaran batik, para peserta tidak diajarkan membatik di atas kain, melainkan melukis motif kawung di atas papan telenan.
Media ini dipilih agar hasil karya dapat dibawa pulang sebagai suvenir personal, sekaligus menjadi pengingat akan pengalaman belajar budaya Indonesia di NSA.
Pendekatan ini menegaskan cara pandang NSA bahwa budaya tidak harus diposisikan sebagai sesuatu yang eksklusif dan berjarak. Dari benda dapur yang sederhana, batik diperkenalkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Melukis papan telenan dengan motif kawung menjadi medium dialog lintas bangsa. Setiap guratan warna menghadirkan cerita tentang kesederhanaan, kebersamaan, dan filosofi hidup yang terkandung dalam batik kawung.
Motif kawung merupakan salah satu motif batik klasik tertua di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa. Ciri khasnya berupa bulatan-bulatan simetris yang menyerupai buah kolang-kaling atau kawung. Sejak masa Kerajaan Mataram Kuno, motif ini memiliki keterkaitan erat dengan lingkungan keraton.













