KILASJAVA.ID, SURABAYA – Halalbihalal di lingkungan pendidikan sering kali identik dengan tradisi saling memaafkan. Namun di Aula Khadijah Surabaya, Senin (30/3/2026), momen itu menjelma menjadi panggung unjuk kualitas sekaligus penegasan arah masa depan siswa.
Yayasan Khadijah tidak hanya merawat budaya silaturahmi, tetapi juga memanfaatkan momentum tersebut untuk menunjukkan capaian konkret para siswanya yang mulai menembus panggung global.
Ketua I Yayasan Khadijah, KH Abdullah Sani, menegaskan bahwa halalbihalal memiliki makna lebih dari sekadar seremoni tahunan. Menurutnya, kegiatan ini adalah refleksi spiritual sekaligus penguat ikatan sosial di tengah dinamika aktivitas pendidikan yang padat.
“Setelah satu bulan menjalani puasa, ini menjadi momen bersyukur sekaligus mempererat silaturahmi. Kita dipertemukan dalam suasana kekeluargaan yang jarang terjadi di hari-hari biasa,” ujarnya.
Dalam suasana tersebut, interaksi lintas elemen pendidikan berlangsung cair. Siswa, guru, hingga tenaga kependidikan berbaur tanpa sekat, menciptakan ruang komunikasi yang lebih humanis dan egaliter.
Di balik suasana hangat itu, Yayasan Khadijah menyisipkan pesan kuat tentang pentingnya prestasi. Sejumlah capaian siswa dipaparkan sebagai bukti bahwa ekosistem pendidikan yang dibangun mulai menunjukkan hasil signifikan.
Indira Cahya Nurani menjadi salah satu sorotan. Ia berhasil meraih beasiswa pemerintah Rusia melalui program Rossotrudnichestvo untuk jurusan arsitektur. Selain itu, Indira juga diterima di program International Undergraduate Program Universitas Gadjah Mada pada bidang Urban and Regional Planning, sebelum akhirnya memilih melanjutkan studi ke Rusia.
Prestasi lain datang dari Nanda Febiarta yang lolos ke PEM Akamigas melalui jalur prestasi pada program D4 Teknik Mesin Kilang. Sementara Rafi Mahendra diterima di Poltekkes Kemenkes Surabaya pada program D4 Keperawatan.
Di jalur SNBP, dua siswa juga berhasil mengamankan golden ticket Universitas Airlangga. Qurina Dewi Baroro diterima di S1 Ilmu Ekonomi, sedangkan M Allen Semesta Takbir Kuswindaryanto di S1 Sosiologi.
Deretan capaian tersebut menjadi modal optimisme bagi Yayasan Khadijah untuk menaikkan target kelulusan ke perguruan tinggi negeri. Tahun ini, angka minimal 70 persen menjadi patokan yang ingin dicapai.
KH Abdullah Sani menyebut, peluang tersebut masih terbuka lebar seiring tahapan seleksi yang belum sepenuhnya selesai. Ia berharap siswa yang telah memenuhi kriteria eligible mampu memaksimalkan setiap kesempatan yang ada.
“Kami menaruh harapan besar agar capaian ini bisa melampaui 70 persen. Anak-anak masih berproses, dan kami terus mendorong mereka untuk memberikan hasil terbaik,” katanya.
Selain jalur akademik, prestasi non-akademik juga turut mengangkat nama Khadijah di kancah internasional. Utiqo Romadlona Ummi Auna, siswa kelas XI SMA Khadijah, sukses meraih prestasi pada cabang olahraga wushu tingkat internasional setelah mengalahkan peserta dari berbagai negara seperti Korea, Amerika Serikat, Hong Kong, India, dan Turki.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan di Yayasan Khadijah tidak berjalan parsial. Akademik dan non-akademik dikembangkan secara seimbang, dengan fondasi nilai-nilai keislaman yang kuat.
Sebagai lembaga pendidikan berbasis Islam, Yayasan Khadijah dikenal konsisten dalam membangun karakter peserta didik. Tidak hanya mendorong kecerdasan intelektual, tetapi juga menanamkan akhlak, disiplin, dan tanggung jawab sosial.
Model pendidikan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai moral itu menjadi kekuatan utama Khadijah dalam mencetak generasi muda yang siap bersaing, tanpa kehilangan identitas dan etika.













