Example 728x250
Pendidikan

Tembus Program TEEP Taiwan, Mahasiswa UNAIR Kembangkan Antena 6G Berkecepatan Ultra Tinggi

14
×

Tembus Program TEEP Taiwan, Mahasiswa UNAIR Kembangkan Antena 6G Berkecepatan Ultra Tinggi

Sebarkan artikel ini
UNAIR

KILASJAVA.ID, SURABAYA –  Langkah mahasiswa Universitas Airlangga kembali menembus panggung internasional. Kali ini datang dari Adista Wahyu Kristian, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) yang berhasil lolos dalam Taiwan Experience Education Program (TEEP) di National Taiwan University (NTU).

Program yang berlangsung selama Maret hingga Juni 2026 itu menjadi salah satu jalur strategis bagi mahasiswa global untuk terlibat langsung dalam riset di kampus maupun industri unggulan di Taiwan.

Example 300x600

NTU sendiri dikenal sebagai salah satu universitas terbaik di Asia dengan ekosistem riset yang kuat.

Kesempatan tersebut tidak datang begitu saja. Adista mengaku memperoleh informasi sekaligus dorongan untuk mengikuti program dari koordinator program studi.

Dalam waktu singkat, ia harus menyiapkan berbagai dokumen serta menghadapi tahapan seleksi yang cukup kompetitif.

“Terdapat dua tahap seleksi, yakni berkas dan wawancara. Saya hanya punya waktu sekitar satu bulan untuk mempersiapkan semuanya. Tantangan terbesar ada di tahap wawancara, tetapi dengan persiapan yang matang akhirnya bisa dilalui,” ungkapnya.

TEEP merupakan inisiatif Kementerian Pendidikan Taiwan yang membuka peluang bagi mahasiswa internasional untuk memperdalam riset, khususnya di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika.

Selain pengalaman akademik, peserta juga mendapatkan dukungan berupa beasiswa biaya hidup selama program berlangsung.

Bagi Adista, memilih NTU bukan keputusan tanpa pertimbangan. Ia melihat kampus tersebut sebagai lingkungan ideal untuk mengembangkan kompetensinya di bidang teknik elektro.

“Reputasi akademiknya kuat, fasilitasnya lengkap, dan lokasinya sangat mendukung mobilitas karena terintegrasi dengan transportasi umum. Itu menjadi alasan utama saya memilih NTU,” jelasnya.

Namun, pengalaman pertama tinggal di luar negeri tidak sepenuhnya berjalan mulus. Adista menghadapi tantangan adaptasi, mulai dari perbedaan budaya hingga bahasa.

Ia mengaku harus menyesuaikan diri dengan cita rasa makanan yang cenderung lebih ringan dibandingkan Indonesia. Selain itu, sistem transportasi yang sangat maju di Taiwan juga membutuhkan waktu untuk dipahami.

“Kendala lain adalah bahasa. Mayoritas masyarakat menggunakan Mandarin dengan aksen yang beragam, sehingga cukup menantang untuk dipahami di awal,” ujarnya.

Selama mengikuti program, Adista menjalani metode pembelajaran berbasis praktik di laboratorium. Interaksi langsung dengan dosen dan lingkungan riset internasional menjadi pengalaman yang memperkaya perspektif akademiknya.

Fokus riset yang ia dalami tergolong mutakhir, yakni Terahertz Antenna Design for 6G Communication. Topik ini berkaitan dengan pengembangan teknologi antena berfrekuensi sangat tinggi untuk mendukung kecepatan data ultra tinggi di masa depan.

“Antena yang dikembangkan berukuran kecil namun efisien, dengan kemampuan mengatasi kendala sinyal pada jaringan 6G. Targetnya adalah mencapai kecepatan data hingga terabit per second,” paparnya.

Di tengah padatnya aktivitas riset, Adista juga membagikan sejumlah catatan penting bagi mahasiswa yang ingin mengikuti program serupa. Ia menekankan pentingnya kesiapan sejak awal, baik dari sisi akademik maupun non-akademik.

Menurutnya, pemahaman bahasa dan budaya negara tujuan menjadi bekal utama. Selain itu, mahasiswa perlu aktif mencari informasi peluang internasional melalui berbagai kanal, termasuk media sosial dan jaringan kampus.

Ia juga mengingatkan pentingnya menyusun CV dan portofolio yang kuat sebagai representasi kemampuan diri di hadapan reviewer.

Example 468x60 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *