KILASJAVA.ID, SURABAYA – Di tengah berbagai dinamika sosial dan tantangan global, Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang jatuh setiap tanggal 29 Juni menjadi momen penting untuk menegaskan kembali peran vital keluarga dalam membentuk masa depan bangsa.
Peringatan ke-32 Harganas tahun ini kembali mengajak masyarakat Indonesia untuk merefleksikan kekuatan relasi paling mendasar dalam kehidupan manusia: keluarga.
Sejarah Harganas berakar dari momen bersejarah pasca-penyerahan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda pada 22 Juni 1949.
Tujuh hari kemudian, tepatnya 29 Juni, para pejuang kembali ke rumah, bertemu keluarga setelah masa-masa panjang perjuangan.
Tanggal ini kemudian dipilih oleh Presiden Soeharto dan diperkuat oleh Prof. Dr. Haryono Suyono, Kepala BKKBN saat itu, sebagai simbol penting bahwa keluarga adalah tempat pulang paling hakiki sekaligus titik awal pembangunan bangsa.
Penetapan resmi Harganas melalui Keputusan Presiden Nomor 39 Tahun 2014 menegaskan bahwa pembangunan keluarga bukan hanya kebijakan teknokratis, melainkan investasi sosial jangka panjang.
Dalam konteks inilah BKKBN kini hadir bukan sekadar sebagai pengelola program pengendalian penduduk, tetapi juga motor utama penguatan institusi keluarga.
Menurut Dra. Maria Ernawati, M.M., Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Timur, keluarga adalah pilar utama dalam merawat nilai-nilai kebangsaan, pendidikan karakter, hingga ketahanan sosial.
“Hari Keluarga mengajak kita semua untuk tidak melupakan bahwa keluarga adalah kekuatan yang membentuk masa depan bangsa,” ujarnya di Surabaya, Minggu 29 Juni 2025.
Berbagai tantangan yang pernah dihadapi, seperti praktik pernikahan usia dini, tingginya angka kematian ibu dan bayi, serta ketimpangan akibat keluarga besar yang tidak terencana, telah mendorong lahirnya Program Keluarga Berencana.
Gerakan ini menjadi kesadaran nasional akan pentingnya membangun keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera, dimulai sejak 29 Juni 1970.