Example 728x250
Pendidikan

Riset Doktor ITS Soroti Pentingnya Desain Interior untuk Pasien Kanker Anak

4
×

Riset Doktor ITS Soroti Pentingnya Desain Interior untuk Pasien Kanker Anak

Sebarkan artikel ini
ITS
Dr Anggra Ayu Rucitra ST MMT (kiri) saat melakukan wawancara terhadap pasien kanker anak untuk penelitian dalam disertasinya.

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali menunjukkan kiprahnya di level akademik sekaligus kemanusiaan.

Melalui riset doktoral, dosen Departemen Desain Interior ITS, Dr Anggra Ayu Rucitra ST MMT, merumuskan model lingkungan penyembuhan bagi pasien kanker anak berbasis pendekatan multisensori adaptif.

Example 300x600

Disertasi berjudul Model Lingkungan Penyembuhan Pasien Kanker Anak Melalui Stimulasi Multisensori Adaptif itu dipertahankan dalam sidang promosi doktor di Departemen Arsitektur ITS pada Senin (9/2/2026).

Riset tersebut dibimbing oleh Ir Purwanita Setijanti MSc PhD sebagai promotor dan Dr Asri Dinapradipta MBEnv sebagai ko-promotor.

Penelitian ini berangkat dari kegelisahan yang sangat personal. Anggra pernah menyaksikan langsung perjuangan anak sahabatnya melawan kanker.

Dari situ, ia menyadari bahwa ruang perawatan bukan sekadar tempat tindakan medis, tetapi juga ruang psikologis yang dapat memengaruhi kondisi emosi pasien anak.

Menurut Anggra, elemen desain seperti pencahayaan, warna, tekstur, material, suhu, hingga kenyamanan akustik berperan penting dalam membentuk pengalaman anak saat menjalani kemoterapi.

Pendekatan multisensory architecture yang ia gunakan menempatkan ruang sebagai pengalaman tubuh yang utuh atau embodied experience.

“Ruang fasilitas kesehatan dapat memengaruhi kondisi psikologis dan mendukung proses penyembuhan, khususnya dalam palliative care,” ujarnya.

Untuk memperkuat kajian akademiknya, Anggra juga menjalani program riset di Shibaura Institute of Technology, Tokyo, Jepang, pada Februari 2023.

Pengalaman tersebut membantunya menyusun model integrasi antara faktor internal pasien—seperti kondisi emosi dan respons sensorik—dengan atribut fisik lingkungan.

Hasil akhirnya adalah model perancangan berbasis evidence-based design yang kontekstual dengan kebutuhan Indonesia.

Penelitian ini menghasilkan daftar faktor multisensori spesifik yang relevan diterapkan pada ruang kemoterapi anak. Model tersebut dapat menjadi pedoman praktis bagi arsitek, desainer interior, dan pengelola rumah sakit dalam merancang fasilitas paliatif anak yang lebih ramah dan inklusif.

Riset ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals, terutama poin ke-3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera serta poin ke-10 mengenai pengurangan kesenjangan.

Prinsip inklusivitas menjadi penekanan utama, mengingat pasien kanker anak termasuk kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus.

Terobosan ini menegaskan bahwa desain interior bukan hanya soal estetika, melainkan bagian dari sistem penyembuhan.

Di tengah kebutuhan fasilitas kesehatan yang semakin humanis, inovasi dari ITS ini membuka peluang lahirnya standar baru ruang perawatan anak di Indonesia.

Dengan pendekatan ilmiah dan empati yang kuat, model multisensori adaptif ini diharapkan tidak berhenti sebagai disertasi, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam praktik perancangan rumah sakit ke depan.

Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *