KILASJAVA.ID, SURABAYA – Upaya internasionalisasi kampus tak lagi berhenti pada ruang seminar. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membawa 43 peserta dari berbagai negara mengamati langsung praktik pembangunan berkelanjutan di SMP YPPI 1 Surabaya dalam program Community & Technological (CommTECH) Camp Stream 2: SDGs Innovations 2026, Kamis, (12/2/2026).
Program ini menjadi bagian dari strategi ITS memperluas jejaring global sekaligus memperlihatkan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) pada level pendidikan menengah.
Para peserta berasal dari universitas di Jepang, Malaysia, Thailand, Filipina, Kanada, Taiwan, Rusia, Nepal, Korea, Kamboja, Tiongkok, Vietnam, dan India.
Manager for CommTECH and Short Program Direktorat Kemitraan Global ITS, Muh Wahyu Islami Pratama Maoundu, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang pertukaran praktik baik antarnegara.
Menurut dia, sekolah dipilih karena menjadi fondasi pembentukan kesadaran keberlanjutan sejak dini.
“Peserta dan siswa dapat saling belajar mengenai peran komunitas dalam menciptakan lingkungan yang berkelanjutan,” kata Wahyu.
Dalam kunjungan itu, peserta mengikuti tiga lokakarya. Sesi pertama berfokus pada pengenalan produk olahan yang dikembangkan mandiri oleh sekolah.
Delegasi tidak hanya menyaksikan prosesnya, tetapi juga terlibat dalam praktik memasak bersama siswa dan guru.
Lokakarya berikutnya memperkenalkan proses batik tulis. Peserta mencoba teknik mencanting hingga pewarnaan kain.
Kegiatan ini memperlihatkan keterkaitan antara pelestarian budaya dan praktik produksi yang lebih bertanggung jawab.
Pada sesi seni dan kerajinan, peserta diajak membuat karya menggunakan teknik ukir dengan solder. Motif yang dihasilkan mengadopsi kekhasan lokal, sekaligus menjadi medium pembelajaran kreatif berbasis lingkungan.
Kepala SMP YPPI 1 Surabaya, Titris Hariyanti Utami, menyebut nilai-nilai SDGs telah terintegrasi dalam kurikulum sekolah. Kegiatan bersama peserta internasional, kata dia, menjadi ruang bagi siswa untuk mempresentasikan praktik pembelajaran yang telah berjalan.
Salah satu fokus sekolah adalah pengolahan limbah batik. Sisa lilin dari proses membatik dimanfaatkan kembali menjadi lilin aromaterapi. Air hasil pencucian kain pun diproses secara alami untuk menurunkan kadar pH sebelum dibuang.
Praktik tersebut, menurut Titris, merupakan bagian dari pembelajaran berbasis lingkungan yang menekankan tanggung jawab produksi dan konsumsi.
Peserta asal University of the Fraser Valley, Kanada, Malissa Hartzenberg, menilai pendekatan interaktif memudahkan pemahaman konsep keberlanjutan. Ia melihat integrasi antara budaya lokal dan inovasi teknologi sebagai pendekatan yang relevan dengan tantangan global.
Kegiatan ini merefleksikan dukungan ITS terhadap pencapaian SDGs poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Selain itu, praktik pengelolaan limbah dan produksi kreatif di sekolah turut berkaitan dengan poin ke-11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan serta poin ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Melalui program ini, ITS menempatkan sekolah sebagai laboratorium sosial. Dari ruang kelas di Surabaya, diskursus global tentang keberlanjutan diterjemahkan dalam praktik sehari-hari.













