Example 728x250
Pendidikan

Peace Goes To School Seri Kedua Digelar di Sidoarjo, Dorong Sekolah Aman Tanpa Perundungan

3
×

Peace Goes To School Seri Kedua Digelar di Sidoarjo, Dorong Sekolah Aman Tanpa Perundungan

Sebarkan artikel ini

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Upaya menghadirkan sekolah sebagai ruang aman kembali ditegaskan melalui gelaran Peace Goes To School The Series untuk kali kedua di SMP Widya Wiyata Sidoarjo, Sabtu (14/2/2026).

Program yang digagas Peace Leader Indonesia dan didukung Asian Muslim Action Network Indonesia ini mengusung tema Memberdayakan Pemuda Pembangun Perdamaian, Membentuk Masa Depan Inklusif.

Example 300x600

Tak hanya berlangsung di Sidoarjo, kegiatan ini dilaksanakan serentak di 10 kota di Indonesia.

Momentum tersebut menjadi penegasan bahwa isu kekerasan dan intoleransi di lingkungan pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Dalam beberapa tahun terakhir, sekolah di Indonesia masih dihadapkan pada persoalan serius seperti perundungan, intoleransi, kekerasan seksual, serta kekerasan berbasis gender.

Fenomena ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi peserta didik maupun tenaga pendidik.

Dampaknya tidak sederhana. Selain memicu gangguan kesehatan mental dan menurunkan rasa aman, kondisi tersebut juga berimbas pada terganggunya proses belajar dan memburuknya iklim sekolah secara keseluruhan. Jika dibiarkan, kualitas pendidikan turut tergerus.

Pemerintah sendiri telah menetapkan perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi sebagai Tiga Dosa Besar Pendidikan sejak 2023.

Komitmen itu diperkuat melalui Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan.

Regulasi tersebut menegaskan bahwa penghapusan kekerasan bukan sekadar agenda moral, melainkan bagian strategis dari transformasi pendidikan nasional.

Dalam konteks inilah Peace Goes To School hadir. Program ini dirancang sebagai dukungan konkret terhadap gerakan nasional penghapusan Tiga Dosa Besar Pendidikan melalui pendekatan partisipatif, dialogis, dan berkelanjutan.

Peace Leader Indonesia, yang merupakan gerakan anak muda lintas iman dan latar belakang, menggandeng AMAN Indonesia yang berpengalaman dalam pendidikan perdamaian serta penguatan kepemimpinan perempuan dan generasi muda.

Ketua Bidang Program Peace Leader Indonesia, Nur Kholifah, menjelaskan bahwa PGS dirancang untuk memperkuat pemahaman siswa dan guru mengenai nilai perdamaian, toleransi, kesetaraan gender, serta keterampilan resolusi konflik non-kekerasan.

Menurutnya, pembentukan karakter damai tidak cukup melalui ceramah, tetapi perlu praktik kolaboratif dan ruang dialog yang setara.

Kepala SMP Widya Wiyata Sidoarjo, Inayah Sri Wardhani, yang juga menjadi penasehat Peace Leader Indonesia, menegaskan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab moral dan sosial dalam membangun budaya aman.

Ia menyebut, kegiatan semacam ini memang tidak tercantum dalam rapor akademik. Namun nilai yang ditanamkan jauh lebih fundamental.

Sekolah, katanya, berkepentingan membentuk karakter berbudi pekerti luhur yang selaras dengan visi pendidikan inklusif.

Program ditutup dengan pemilihan Student Ambassador for Peace. Empat siswa terpilih sebagai duta perdamaian sekolah dalam kategori Peace, Tolerance, Equality, dan Inclusivity.

Proses seleksi dilakukan sepanjang pelatihan dengan indikator kemampuan kerja sama tim, public speaking, serta kreativitas.

Momen emosional turut mewarnai kegiatan tersebut. Komite Sekolah, Ken Maritiningrum, mengaku terharu melihat kepedulian siswa terhadap teman-teman mereka yang berkebutuhan khusus.

Keterlibatan mereka dalam proyek kelompok hingga presentasi menjadi bukti nyata bahwa pendidikan karakter dan nilai inklusivitas telah tumbuh di lingkungan sekolah.

Peace Goes To School tidak berhenti sebagai seremoni. Program ini menjadi ruang kolaboratif yang mendorong penguatan daya kritis, empati, serta kepemimpinan damai di kalangan pelajar.

Pendekatan ini diharapkan mampu membangun budaya sekolah yang aman, berkelanjutan, dan adaptif terhadap keberagaman.

Jika pendidikan adalah fondasi masa depan bangsa, maka memastikan sekolah bebas dari kekerasan dan intoleransi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Dari ruang kelas di Sidoarjo, pesan itu kembali digaungkan: perdamaian harus diajarkan, dipraktikkan, dan diwariskan.

Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *