KILASJAVA.ID, SURABAYA – Ketika bencana datang, persoalannya bukan sekadar kerusakan infrastruktur, melainkan bagaimana keputusan diambil dalam hitungan menit untuk menyelamatkan sebanyak mungkin jiwa.
Di titik krusial itulah Prof Dr Bhakti Stephan Onggo PhD menawarkan pendekatan berbasis digital twins yang menggabungkan simulasi dan data real-time guna memperkuat respons kebencanaan.
Alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tersebut kini menjabat profesor bidang Business Analytics di University of Southampton, Inggris.
Kepakarannya di bidang simulasi dan analitik bisnis membawanya pada pengembangan model yang mampu merepresentasikan sistem nyata dalam bentuk digital, terhubung langsung dengan dinamika kondisi lapangan.
Konsep digital twins memungkinkan pemodelan dilakukan secara adaptif. Sistem tidak lagi bekerja berdasarkan asumsi statis, melainkan memproses pembaruan data secara berkelanjutan.
Dalam konteks kebencanaan, pendekatan ini membuka ruang bagi pengambil keputusan untuk menguji berbagai skenario, menghitung risiko, dan menentukan prioritas penyelamatan secara lebih presisi.
Bhakti menempuh pendidikan sarjana di Jurusan Teknik Komputer ITS pada 1989. Masa kuliah dengan fasilitas terbatas membentuk karakter akademik yang tangguh dan mandiri.
Kultur tersebut menjadi fondasi ketika ia melanjutkan studi magister di Lancaster University pada bidang Operations Research, lalu meraih doktor di National University of Singapore (NUS) dalam bidang Computer Science.
Karier akademiknya berkembang melalui riset postdoctoral di Inggris, kemudian menjadi Assistant Professor, Associate Professor di Trinity College Dublin, hingga akhirnya dikukuhkan sebagai profesor di Southampton.
Bidang keilmuannya beririsan kuat dengan simulasi sistem kompleks, optimasi, dan pengambilan keputusan berbasis data.
Melalui kolaborasi dengan Departemen Teknik Geomatika ITS serta Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS, Bhakti mengembangkan dua aplikasi utama digital twins untuk kebencanaan.
Pertama, sistem yang memprioritaskan penyelamatan korban secara cepat. Kedua, sistem yang mengoptimalkan distribusi bantuan agar tepat sasaran dan efisien.
Fokus riset tersebut diarahkan pada populasi rentan seperti ibu hamil dan anak-anak. Dalam banyak kasus bencana, kelompok ini menghadapi risiko berlapis akibat keterbatasan mobilitas maupun akses layanan kesehatan.
Dengan simulasi berbasis digital twins, lokasi, kebutuhan, serta jalur evakuasi dapat dipetakan dan diperbarui secara dinamis.
Bhakti menjelaskan bahwa integrasi digital twins dalam metodologi simulasi mengubah paradigma lama yang cenderung statis.
Model kini dapat disesuaikan secara langsung dengan perubahan kondisi, baik terkait cuaca, akses jalan, kapasitas fasilitas kesehatan, maupun ketersediaan logistik. Proses evaluasi kebijakan pun menjadi lebih cepat dan berbasis data aktual.
Di luar pengembangan teknologi, ia menekankan pentingnya pola pikir logis dan sistematis yang dibentuk sejak masa kuliah di ITS.
Kemampuan tersebut, menurutnya, tidak hanya relevan dalam riset, tetapi juga dalam membaca persoalan sosial, termasuk menyaring informasi yang beredar di ruang publik.
Jejaring internasional yang ia bangun mempertemukan keahlian global dengan kebutuhan lokal.
Kolaborasi lintas negara dalam riset kebencanaan menunjukkan bagaimana sains dan teknologi dapat dirancang untuk menjawab persoalan nyata masyarakat, terutama dalam situasi darurat yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan akurasi keputusan.













