Example 728x250
Pendidikan

Mahasiswa UNUSA Ciptakan Rambu Evakuasi Tsunami Berbasis Sensor dan IoT

9
×

Mahasiswa UNUSA Ciptakan Rambu Evakuasi Tsunami Berbasis Sensor dan IoT

Sebarkan artikel ini
Unusa

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Rambu evakuasi biasanya hanya menunjukkan arah yang harus diikuti ketika keadaan darurat terjadi. Lima mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) mencoba mengembangkan fungsi tersebut agar rambu tidak sekadar menjadi penunjuk arah, tetapi juga mampu merespons kondisi lingkungan yang terdeteksi sensor.

Gagasan itu diwujudkan melalui SafeLight Tsunami Route, prototipe rambu evakuasi berbasis sensor yang dikembangkan mahasiswa Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) UNUSA.

Inovasi tersebut berhasil memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) 2026, salah satu skema pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemdiktisaintek.

Tim pengembang terdiri atas Rofiq Arroyan, Nadea Putri Wahyuni, Cicilia Febriana Mayangsari, Rachmalia Eka Putri, dan Angga Adi Nugroho. Mereka mengembangkan prototipe tersebut di bawah bimbingan Merry Sunaryo, S.K.M., M.KKK.

Konsep SafeLight Tsunami Route dikembangkan dari gagasan untuk memperkuat rambu evakuasi konvensional yang selama ini umumnya menyampaikan informasi secara statis.

Melalui sensor dan sistem monitoring, perangkat dirancang untuk menampilkan informasi sesuai dengan kondisi yang terdeteksi di lingkungan.

โ€œSafeLight Tsunami Route mengintegrasikan teknologi sensor, sistem monitoring, serta indikator visual dan suara untuk membantu menyampaikan informasi mengenai kondisi bencana kepada masyarakat,โ€ ujar tim pengembang.

Perangkat tersebut terdiri atas dua subsistem utama, yakni subsistem darat dan subsistem laut. Subsistem darat menggunakan mikrokontroler ESP32 dan sensor getaran MPU6050 untuk membaca aktivitas atau getaran yang berkaitan dengan gempa.

Sedangkan subsistem laut menggunakan sensor pelampung untuk memantau perubahan muka air laut sebagai salah satu parameter dalam sistem peringatan.

Data yang diperoleh dari kedua subsistem kemudian diproses untuk menentukan kondisi yang ditampilkan melalui indikator.

Ada tiga kondisi yang dirancang pada sistem indikator SafeLight Tsunami Route. Lampu hijau menunjukkan kondisi aman. Lampu kuning yang disertai sirine menunjukkan kondisi gempa atau kewaspadaan.

Sementara lampu merah dengan sirine berintensitas lebih tinggi menunjukkan indikasi potensi tsunami dan perlunya segera mengikuti prosedur evakuasi.

Informasi dari sensor juga dapat dikirimkan ke sistem pemantauan melalui modem MiFi. Dengan mekanisme tersebut, data yang diterima perangkat dapat dipantau secara real-time.

Sistem juga menampilkan tingkat guncangan menggunakan Modified Mercalli Intensity (MMI). Skala tersebut digunakan sebagai representasi tingkat intensitas guncangan yang terdeteksi oleh perangkat.

Untuk menunjang operasional perangkat, tim menggunakan panel surya sebagai sumber energi mandiri. Energi yang dihasilkan panel surya diatur melalui solar charge controller dan disimpan dalam baterai.

Sementara kebutuhan daya setiap komponen elektronik disesuaikan menggunakan konverter tegangan.

Aspek lingkungan pesisir juga menjadi perhatian dalam pengembangan prototipe. Komponen elektronik utama ditempatkan dalam box pelindung sebagai bagian dari penyesuaian perangkat terhadap kondisi lingkungan tempat prototipe dikembangkan.

Sebelum sampai pada bentuk prototipe tersebut, SafeLight Tsunami Route telah melalui proses perakitan dan pengujian. Hasil evaluasi kemudian digunakan untuk menyempurnakan sejumlah bagian, mulai dari rangkaian elektronik, konfigurasi LED RGB, pemrograman sistem monitoring hingga penyajian informasi tingkat guncangan menggunakan skala MMI.

Bagi kelima mahasiswa tersebut, pengembangan SafeLight Tsunami Route menjadi penerapan keilmuan K3 yang tidak hanya berkaitan dengan keselamatan di lingkungan kerja, tetapi juga kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.

โ€œMelalui pendekatan berbasis teknologi, kami tidak hanya mengembangkan perangkat, tetapi juga berupaya menghadirkan solusi yang dapat mendukung penyampaian informasi dalam situasi darurat,โ€ kata tim.

Tim berharap prototipe SafeLight Tsunami Route dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai perangkat pendukung penyampaian informasi kondisi bencana dan evakuasi bagi masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di wilayah pesisir yang memiliki potensi gempa bumi dan tsunami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60