KILASJAVA.ID, SURABAYA – Perubahan dunia kerja menuntut perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan berijazah, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu berinovasi, menjaga integritas, dan mengikuti perkembangan teknologi. Tantangan itu menjadi perhatian Universitas Terbuka (UT) Surabaya dalam rangkaian wisuda 1.351 mahasiswa di Graha Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Minggu (11/10/2026).
Momentum wisuda tersebut didahului Seminar Akademik Alumni pada Sabtu (10/10/2026). Mengusung tema โMewujudkan Generasi Inovatif, Berintegritas, dan Menduniaโ, kegiatan ini mengajak alumni mempersiapkan diri menghadapi persaingan profesional yang semakin dinamis.
Seminar akademik yang berlangsung di Graha Unesa itu menghadirkan Laksamana TNI (Purn.) Prof. Dr. Marsetio, M.M. dan Prof. Dr. Maximus Gorky Sembiring, M.Sc. sebagai pembicara utama.
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan menjadi bagian dari perubahan yang perlu diantisipasi para lulusan. Kompetensi yang diperoleh selama kuliah perlu terus diperbarui agar tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Direktur UT Surabaya, Prof. Dr. Suparti, M.Pd., mengatakan pendidikan tinggi tidak semestinya hanya berorientasi pada perolehan ijazah dan gelar akademik. Pendidikan juga harus membentuk pola pikir, memperluas wawasan, meningkatkan kompetensi, serta menanamkan karakter.
Menurut Suparti, pengetahuan yang diperoleh mahasiswa selama menempuh pendidikan perlu diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata. Dengan begitu, lulusan tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menghasilkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Inovasi dan integritas, dalam konteks tersebut, menjadi bekal penting bagi alumni untuk menjalankan peran profesional sekaligus memberikan kontribusi sosial. Mereka diharapkan mampu mengembangkan gagasan dan kreativitas yang mendorong perubahan di lingkungan masing-masing.
Sementara itu, Rektor Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., menegaskan bahwa wisuda bukan sekadar seremoni untuk menandai berakhirnya masa studi. Kegiatan tersebut juga mencerminkan peran UT dalam memperluas kesempatan masyarakat memperoleh pendidikan tinggi melalui sistem terbuka dan jarak jauh.
Sistem pembelajaran tersebut memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa untuk mengikuti pendidikan tanpa harus sepenuhnya terikat pada batasan geografis. Model ini membuka kesempatan bagi masyarakat dengan latar belakang dan kondisi beragam, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan waktu karena pekerjaan maupun tanggung jawab lainnya.
Ali menyebut UT Surabaya sebagai salah satu dari lima UT daerah terbesar di Indonesia. Menurut dia, UT Surabaya menyelenggarakan wisuda sedikitnya dua kali dalam setahun dengan jumlah lulusan tidak kurang dari 1.000 orang pada setiap pelaksanaan.
Jangkauan layanan UT Surabaya meliputi 18 kabupaten dan kota. Meski demikian, mahasiswa yang memanfaatkan layanan tersebut tidak seluruhnya berasal dari wilayah itu karena sistem pendidikan jarak jauh memungkinkan mahasiswa dari daerah lain mengikuti perkuliahan.
Di tengah upaya memperluas akses pendidikan, UT juga memasang target pertumbuhan jumlah mahasiswa. Ali menyampaikan bahwa institusinya menargetkan dapat melayani sedikitnya satu juta mahasiswa pada akhir 2029. Dalam jangka panjang, UT memiliki visi untuk memantaskan diri melayani 2,5 juta mahasiswa.
Target tersebut membutuhkan pengembangan yang tidak hanya bertumpu pada peningkatan jumlah mahasiswa. Kualitas layanan akademik, kompetensi lulusan, dan kepercayaan masyarakat menjadi faktor penting untuk mendukung keberlanjutan pertumbuhan perguruan tinggi.
Ali menekankan bahwa reputasi UT perlu tercermin dari kualitas alumninya. Para lulusan diharapkan mampu menjaga integritas, memiliki kebanggaan akademik, serta menunjukkan reputasi yang baik di tengah masyarakat.




















