“Nilai tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), toleransi, dan keadilan ternyata sangat penting untuk hidup berdampingan dalam keberagaman,” jelasnya.
Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi bagi Gemilang untuk menghadirkan suasana kelas yang inklusif. “Saya belajar melihat perbedaan bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai kekayaan yang harus dipelihara,” tambahnya.
Perjalanan menuju pelantikan sebagai guru profesional tidak mudah. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah membagi waktu antara kuliah, tugas, dan aktivitas lain.
Penempatan magang yang cukup jauh memaksanya bangun lebih pagi, menempuh perjalanan dengan kereta, sekaligus belajar mengatur keuangan.
“Saya belajar disiplin, membuat prioritas, dan menjaga semangat bahwa setiap perjuangan ini akan berdampak besar bagi masa depan saya maupun anak-anak yang akan saya layani,” ungkapnya.
Dalam perjalanan akademiknya, Gemilang banyak terinspirasi oleh sosok Mrs. Magdalena, Dekan FKIP Universitas Kristen Petra.
“Beliau sosok yang penuh kasih dan peduli pada mahasiswa. Dari beliau saya belajar bahwa kepemimpinan sejati lahir dari hati yang tulus,” katanya.
Kini, setelah resmi dilantik sebagai guru profesional, rasa syukur menyelimuti dirinya.
“Momen ini adalah bukti perjalanan panjang penuh doa dan perjuangan. Saya merasa siap memasuki babak baru sebagai guru yang mengajar dengan hati,” ucapnya dengan senyum hangat.
Bagi Gemilang, menjadi guru sejati berarti tidak melupakan esensi mendidik. “Setiap anak adalah pribadi yang berharga. Mengajar bukan hanya soal materi, melainkan tentang menyentuh hati. Benih yang kita tanam mungkin tidak langsung terlihat hasilnya, tetapi suatu saat akan tampak ketika mereka tumbuh menjadi generasi emas bangsa,” pesannya.
Yustina Gemilang adalah bukti nyata bahwa guru bukan hanya hadir untuk mengajar, melainkan juga untuk mengasihi, mendampingi, dan menumbuhkan nilai kehidupan.
Dari Papua hingga Surabaya, kisahnya menjadi pengingat bahwa pendidikan sejatinya adalah perjalanan hati.
***Kunjungi kami di news google KilasJava.id