KILASJAVA.ID, SURABAYA – Sebanyak 136 peserta resmi diambil sumpah profesi sebagai guru dalam kegiatan Yudisium dan Sumpah Profesi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Gelombang 2 Tahun 2024 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Prosesi tersebut berlangsung di Auditorium Lantai 9 Tower Kampus B Jemursari, Kamis (21/8/2025).
Para peserta ini berasal dari dua jalur program, yakni PPG Calon Guru (Pra Jabatan) dan PPG Guru Tertentu (Dalam Jabatan). Kedua program tersebut memiliki perbedaan mendasar dari segi asal peserta dan tujuan pelaksanaannya.
PPG Calon Guru diperuntukkan bagi lulusan S1 atau D4, baik dari jurusan kependidikan maupun non-kependidikan, yang belum berstatus sebagai guru tetap.
Program ini menyiapkan calon guru agar memiliki sertifikat pendidik sebelum terjun ke sekolah.
Masa studi berlangsung selama dua semester atau setahun, mencakup kuliah, praktik mengajar, serta ujian kompetensi.
Lulusan PPG ini akan memperoleh sertifikat pendidik yang dapat digunakan untuk melamar sebagai guru PNS maupun PPPK.
Sementara itu, PPG Guru Tertentu ditujukan bagi guru aktif, baik ASN maupun non-ASN, yang sudah tercatat di Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Dengan masa studi lebih singkat, hanya satu semester, program ini memberikan kesempatan bagi guru berpengalaman untuk mendapatkan sertifikat pendidik yang dapat digunakan sebagai dasar memperoleh Tunjangan Profesi Guru (TPG).
Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng, dalam sambutannya menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital harus dipandang sebagai tantangan sekaligus peluang oleh para pendidik.
Menurutnya, teknologi digital menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembelajaran, namun juga menawarkan berbagai kemungkinan yang dapat dimanfaatkan secara bijak.
“Guru tidak bisa serta-merta menyalahkan murid dalam menghadapi perkembangan zaman. Justru guru yang harus mampu menerima kondisi tersebut dan mengarahkannya dengan tepat,” ujar Prof. Jazidie.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa di tengah kehadiran kecerdasan buatan (AI), peran guru tidak dapat tergantikan.
AI memang mampu menghadirkan pengetahuan secara cepat dan mudah, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam berinovasi, berempati, dan membangun karakter.
“Tantangan terbesar guru saat ini adalah bagaimana mendidik murid agar terbiasa berempati, mudah memberikan pertolongan, serta mampu bekerja sama dengan orang lain. Nilai-nilai inilah yang harus dibangun sejak dini agar perkembangan teknologi tidak menggerus karakter, melainkan memperkuat kualitas generasi penerus,” pungkasnya.
***Kunjungi kami di news google KilasJava.id