KILASJAVA.ID, SURABAYA – Dunia kedokteran bagi Atika Salsabillah Zein bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan keluarga yang akrab dengan profesi tenaga medis. Sang ayah, dr. H. Moh. Zainuddin, merupakan dokter spesialis radiologi. Kakak-kakaknya hingga saudara kembarnya pun memilih jalan yang sama.
Atmosfer keluarga itulah yang perlahan membentuk cara pandang Atika terhadap profesi dokter. Keteladanan yang ia lihat setiap hari membuat dunia medis terasa dekat sekaligus penuh makna.
“Kebetulan ayah, kakak pertama, kakak kedua, dan saudara kembar saya juga dokter. Jadi mereka menjadi teladan bagi saya,” ujar Atika usai prosesi pengambilan sumpah dokter di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Kamis (21/5/2026).
Meski berasal dari keluarga dokter, Atika mengaku sempat memiliki ketertarikan di luar bidang kedokteran. Saat menempuh pendidikan di bangku SMA, ia pernah mempertimbangkan untuk masuk ke jurusan teknik biomedik. Ketertarikannya muncul karena ia menyukai perpaduan antara teknologi dan kesehatan.
Namun, nilai-nilai pengabdian yang ditanamkan keluarga membuat pilihannya kembali mengarah ke dunia medis.
Ia menilai profesi dokter bukan sekadar pekerjaan, melainkan ruang untuk memberi manfaat secara langsung kepada masyarakat.
Menariknya, Atika tumbuh dalam pola pengasuhan yang jauh dari tekanan akademik berlebihan. Orang tuanya tidak pernah memaksakan capaian tertentu.
Dukungan moral justru menjadi fondasi utama selama ia menjalani pendidikan kedokteran yang panjang dan penuh tantangan.
Saat menghadapi hambatan akademik, sang ayah memilih memberikan dukungan emosional dibanding tuntutan.
“Nggak apa-apa. InsyaAllah kalau mengulang, ilmunya malah lebih nyantol,” kata Atika menirukan pesan ayahnya.
Bagi Atika, dukungan semacam itu menjadi energi penting untuk bertahan dalam ritme pendidikan kedokteran yang dikenal ketat. Ia merasa diberi ruang untuk bertumbuh tanpa dibebani rasa takut gagal.
Perjalanan akademiknya juga tidak dilewati sendirian. Sang suami, yang merupakan teman satu angkatan di Fakultas Kedokteran Unusa, menjadi sosok yang ikut mendampingi dalam berbagai fase sulit selama masa pendidikan profesi.
Keduanya saling mendukung ketika menghadapi tekanan akademik, terutama saat persiapan Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).
Atika mengenang masa-masa belajar hingga larut malam di kafe, berbagi catatan, hingga saling menguatkan ketika rasa lelah datang.
“Kadang sama-sama capek, tapi saling mengingatkan untuk bertahan,” tuturnya.
Setelah resmi menyandang gelar dokter, Atika mulai menata langkah berikutnya. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikan spesialis di bidang dermatologi.
Ketertarikannya terhadap dunia kulit dan kecantikan tumbuh dari rasa ingin tahu mengenai karakteristik kulit manusia serta perkembangan formulasi skincare berbasis medis.
Menurutnya, dermatologi tidak hanya berkaitan dengan aspek estetika, tetapi juga kesehatan dan kualitas hidup seseorang. Persoalan kulit sering kali memengaruhi rasa percaya diri, sehingga penanganannya membutuhkan pendekatan ilmiah sekaligus empati.
Ketertarikan tersebut juga membawanya pada mimpi yang lebih besar. Di masa depan, Atika ingin membangun jenama skincare miliknya sendiri.
Ia berharap dapat menghadirkan produk perawatan kulit yang aman, berbasis ilmu pengetahuan, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Ia menilai dunia kesehatan dan kewirausahaan dapat berjalan beriringan selama tetap berpijak pada etika profesi dan riset ilmiah yang kuat.
Di tengah perjalanan panjang menuju profesi dokter, Atika memahami bahwa setiap orang memiliki waktu dan proses masing-masing.
Karena itu, ia berpesan kepada mahasiswa kedokteran maupun calon dokter agar tidak mudah merasa tertinggal ketika menghadapi hambatan selama pendidikan.
“Jangan berkecil hati kalau lulusnya lebih lama. Pada akhirnya tujuan yang ditempuh tetap sama, yaitu menjadi dokter. Yang penting tetap berusaha dan bertawakal, pasti ada jalannya,” pesannya.
Kini, sambil menantikan masa internship bersama sang suami, Atika mulai membuka babak baru dalam perjalanan hidupnya. Dunia dermatologi, pelayanan kesehatan, hingga industri skincare menjadi ruang yang ingin ia jelajahi dengan bekal ilmu dan pengalaman yang telah ia tempuh selama ini.













