KILASJAVA.ID, SURABAYA – Tiga mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) membawa gagasan tentang budidaya rumput laut berbasis teknologi ke panggung kompetisi. Melalui esai Smart Blue Seed System: Platform Cerdas Berbasis AI dan IoT untuk Budidaya Rumput Laut, mereka meraih bronze medal dalam kategori Essay Competition pada Nusantara Writing Festival 6 di Bandung, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Ketiga mahasiswa tersebut adalah Ardiyan Ghossaan Sobandi, Candra Athallah Putra, dan Muhammad Naufal Ar Razi. Mereka menawarkan konsep yang memadukan pengembangan bibit, pemantauan kondisi lingkungan, dan aplikasi digital untuk membantu pembudidaya menentukan waktu serta kondisi budidaya yang lebih tepat.
Ketua tim, Ardiyan Ghossaan Sobandi, menjelaskan bahwa gagasan tersebut muncul dari persoalan yang dihadapi dalam budidaya rumput laut.
Aktivitas budidaya sangat dipengaruhi kondisi lingkungan perairan, mulai dari perubahan suhu laut dan salinitas hingga gelombang tinggi dan penyakit ice-ice.
โKami melihat bahwa adaptasi budidaya rumput laut tidak hanya berfokus pada pengembangan bibit. Namun juga harus memperhatikan penentuan waktu dan kondisi budidaya yang lebih tepat,โ jelas Ardiyan.
Konsep Smart Blue Seed System terdiri atas tiga komponen utama. Smart Seed diarahkan pada pengembangan bibit Kappaphycus alvarezii yang lebih adaptif terhadap suhu tinggi. Kemudian Smart Monitoring digunakan untuk memantau kondisi lingkungan perairan.
Komponen ketiga adalah Blue Seed Mobile, sebuah aplikasi yang menyediakan rekomendasi budidaya berdasarkan data lingkungan.
Aplikasi tersebut memanfaatkan informasi mengenai suhu permukaan laut, salinitas, pH, gelombang, dan curah hujan.
Data tersebut selanjutnya digunakan untuk memberikan informasi mengenai waktu tanam, penundaan budidaya, hingga percepatan panen. Dengan konsep tersebut, pembudidaya diharapkan dapat menyesuaikan kegiatan budidaya dengan kondisi perairan.
Meski telah meraih penghargaan dalam kompetisi, Ardiyan menegaskan bahwa Smart Blue Seed System masih berupa konsep. Gagasan tersebut masih membutuhkan pengembangan dan pengujian di lapangan sebelum dapat diterapkan.
Ia menyebut kolaborasi dengan pemerintah dan institusi penelitian diperlukan agar sistem yang dikembangkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pesisir.
โKami berharap inovasi ini dapat membantu menjaga produktivitas rumput laut, meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat pesisir, sekaligus mendukung pembangunan ekonomi biru yang lebih berkelanjutan,โ ujarnya.
Bagi Ardiyan, mahasiswa tidak perlu membatasi gagasan pada satu bidang. Ia mendorong mahasiswa memulai pengembangan ide dari persoalan yang ada di sekitar, kemudian melakukan riset untuk mengetahui efektivitas solusi yang ditawarkan.
โJangan hanya mengejar kemenangan, fokus pada manfaat yang diberikan untuk masyarakat,โ pungkasnya.




















