KILASJAVA.ID, SURABAYA – Guru Besar Keperawatan Komunitas Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Ferry Efendi SKep Ns MSc PhD, kembali menorehkan prestasi di kancah internasional.
Ia berhasil meraih hibah riset bergengsi dari Volkswagen Foundation, salah satu lembaga pendanaan riset terkemuka di Eropa. Proyek ini dilakukan melalui kolaborasi lintas negara bersama para peneliti dari Indonesia, Jerman, dan Australia.
Mereka adalah Prof Rini Rachmawaty dari Universitas Hasanuddin, Dr Julia Lohmann dari Ludwig-Maximilians-Universität München (LMU), Jerman, serta Dr Firman Witoelar dari Australian National University (ANU).
Kolaborasi ini difokuskan pada riset bertajuk Understanding the Education and Labor Market Consequences of Indonesia’s Quest to Become the World’s Leading Nurse Exporting Nation.
Penelitian ini akan mengkaji secara mendalam dampak kebijakan Indonesia dalam mendorong migrasi tenaga keperawatan ke luar negeri.
Proyek ini dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai implikasi kebijakan tersebut terhadap sistem pendidikan, pasar kerja, serta daya saing lulusan keperawatan Indonesia di tingkat global.
Prof Ferry menyatakan bahwa kebutuhan tenaga keperawatan secara global, terutama di negara-negara anggota OECD, mengalami peningkatan signifikan seiring dengan krisis kekurangan tenaga kesehatan.
Di sisi lain, Indonesia memiliki lebih dari 750 program studi keperawatan dengan produksi lebih dari 50.000 lulusan per tahun, yang menempatkannya pada posisi strategis dalam pemenuhan permintaan tenaga keperawatan dunia.
“Indonesia memiliki surplus perawat, sementara dunia mengalami kekurangan akut. Ini momentum strategis yang harus kita manfaatkan,” ujar Prof Ferry, yang dua tahun berturut-turut tercatat dalam daftar top 2 persen peneliti dunia bidang keperawatan versi Stanford University dan Elsevier.
Penelitian ini akan berlangsung selama lima tahun dengan pendanaan senilai lebih dari Rp25 miliar.
Studi ini mencakup lebih dari 60 institusi pendidikan keperawatan di Indonesia dan akan menggunakan pendekatan longitudinal serta mixed-methods. Fokus utama kajian mencakup perubahan pada struktur pendidikan keperawatan, karakteristik mahasiswa, kesiapan lulusan, serta dampaknya terhadap sistem kesehatan nasional dan global.
Bagi Prof Ferry, kolaborasi internasional ini bukan kali pertama. Ia telah menjalin kerja sama riset dengan Dr Julia Lohmann dalam studi mengenai persepsi pemangku kepentingan terkait migrasi tenaga kesehatan di Indonesia, Kolombia, dan Yordania.
Studi terdahulu mereka menunjukkan bahwa tingkat emigrasi perawat Indonesia belum mengancam pasokan domestik. Oleh karena itu, kebijakan strategis dibutuhkan untuk menjadikan Indonesia sebagai eksportir tenaga keperawatan yang kompeten.
Lebih dari sekadar menghasilkan keluaran akademik, riset ini juga bertujuan memperkuat kapasitas peneliti muda melalui pelatihan, program doktoral, dan kemitraan lintas negara.
Hibah dari Volkswagen Foundation ini menjadi bukti pengakuan internasional atas kapasitas akademik Indonesia, sekaligus sebagai instrumen diplomasi pengetahuan dan penguatan sumber daya manusia kesehatan nasional.
“Lebih dari sekadar riset, ini adalah investasi jangka panjang dalam diplomasi pengetahuan dan penguatan kualitas SDM kesehatan Indonesia. Sudah saatnya Perawat Indonesia-Merawat Dunia,” tegas Prof Ferry.
***Kunjungi kami di news google KilasJava.id