Example 728x250
Pendidikan

Sinergi UNAIR dan Pemerintah Tekan Kasus Campak di Sumenep

5
×

Sinergi UNAIR dan Pemerintah Tekan Kasus Campak di Sumenep

Sebarkan artikel ini
UNAIR

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) mengambil peran strategis dalam pendampingan pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) campak di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Kegiatan ini berlangsung sejak Senin (25/8) hingga Sabtu (6/9/2025) menyusul penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang telah menelan belasan korban jiwa.

Example 300x600

Program ORI di Sumenep dilaksanakan secara terpadu antara Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, serta FK dan FKM Unair.

Sinergi tersebut ditujukan untuk meningkatkan cakupan imunisasi, memperkuat edukasi masyarakat, dan menekan penyebaran penyakit campak.

Wakil Dekan 3 FK Unair, Dr Sulistiawati dr M Kes, menyampaikan bahwa keterlibatan Unair berangkat dari kebutuhan tenaga medis di lapangan.

“Meski vaksinator sudah tersedia, tetap diperlukan dokter untuk memberikan pendampingan, advokasi, dan edukasi. Karena itu, kami menurunkan tim, khususnya dari Departemen Pediatri,” ungkapnya.

Unair menurunkan tim dalam tiga gelombang. Gelombang pertama dipimpin oleh dr Dwi Yanti Puspitasari DTMH MCTM Sp A(K) bersama dr Alpha Fardah Athiyyah Sp A(K) dan tim PPDS.

Setibanya di Sumenep, mereka langsung berkoordinasi dengan pihak kesehatan untuk menentukan wilayah dengan cakupan imunisasi paling rendah.

“Fokus pendampingan diarahkan ke daerah dengan cakupan ORI di bawah 10 persen. Salah satunya TK Qurrota Ayun, di mana sekitar 200 anak menjadi target vaksinasi,” jelas dr Alpha. Selain melakukan imunisasi, tim juga mendampingi tenaga kesehatan lokal, memberikan edukasi kepada orang tua, hingga memastikan prosedur skrining dan observasi pasca vaksinasi berjalan optimal.

Edukasi Masyarakat dan Antisipasi KIPI

Dalam pelaksanaannya, tim UNAIR tidak hanya menyalurkan vaksinasi tetapi juga memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya imunisasi. Mereka memberikan pelatihan kepada tenaga medis setempat terkait langkah antisipasi jika terjadi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

“Campak sangat menular dan bisa berakibat fatal bila tidak dicegah. Vaksinasi bukan hanya untuk melindungi anak, tetapi juga memberikan perlindungan bagi komunitas yang lebih luas,” tegas dr Dwi Yanti.

Data sementara menunjukkan tren positif. Pasien campak yang dirawat di RSUD Sumenep menurun dari 22 orang menjadi 6 orang. Meski begitu, angka kematian akibat komplikasi pneumonia masih menjadi sorotan.

“Sebagian besar pasien datang dalam kondisi sudah berat sehingga sulit ditangani,” tambahnya.

Dr Dwi Yanti menekankan bahwa ORI campak diberikan kepada semua anak sesuai rentang usia, tanpa memperhitungkan status imunisasi sebelumnya.

“Prinsipnya, setiap anak harus terlindungi. Jika anak dalam kondisi sehat, vaksin diberikan. Bila sedang sakit atau demam, vaksinasi ditunda,” jelasnya.

Melalui pelaksanaan ORI yang serentak dan terarah, diharapkan cakupan imunisasi di Sumenep meningkat signifikan dan penyebaran campak dapat ditekan.

Keterlibatan perguruan tinggi seperti UNAIR menjadi bentuk kontribusi nyata dunia akademik dalam memperkuat sistem kesehatan masyarakat sekaligus mendukung agenda nasional penanggulangan penyakit menular.

***Kunjungi kami di news google KilasJava.id

Example 300250 Example 300250
Example 468x60 Example 468x60 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *