KILASJAVA.ID, SURABAYA – Literasi pajak dan ekonomi kreatif kini menjadi fokus baru perguruan tinggi dalam menghadapi transformasi digital. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) melalui Fakultas Ekonomi, Bisnis, dan Teknologi Digital (FEBTD) meresmikan Tax Center bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kantor Wilayah Jawa Timur I.
Peresmian yang dirangkaikan dengan seminar internasional bertajuk Accounting to Action: Driving Creative Economy, Research and Tax Literacy for Global Impact itu menjadi momentum penting bagi Unusa dalam memperkuat peran akademik dalam mendorong kesadaran pajak dan penguatan ekonomi kreatif.
Wakil Rektor II Unusa, Prof. Dr. Mohamad Yusak Anshori, M.M., menegaskan bahwa akuntansi dan perpajakan memiliki peran strategis dalam tata kelola keuangan yang berintegritas dan transparan.
“Akuntansi bukan hanya urusan hitung-menghitung. Ini adalah bahasa pengambilan keputusan, inovasi, dan literasi keuangan. Melalui Tax Center, kami siap berkolaborasi dengan DJP untuk meningkatkan kesadaran pajak di kalangan mahasiswa dan masyarakat,” ujarnya.
Tax Center Unusa diharapkan menjadi pusat pembelajaran, riset, dan konsultasi perpajakan. Selain mengedukasi mahasiswa tentang pentingnya kepatuhan pajak, lembaga ini juga membuka ruang sinergi antara dunia akademik dan praktisi dalam menciptakan sistem perpajakan yang inklusif dan berkeadilan.
Penyuluh Pajak Ahli Madya Kanwil DJP Jatim I, Alfatir Badra, menyambut kolaborasi ini sebagai langkah konkret untuk memperkuat ekosistem pajak nasional. Ia menekankan bahwa pajak bukan sekadar kewajiban, tetapi juga wujud kontribusi terhadap kemandirian bangsa.
“Sistem pajak kita bersifat progresif dan berkeadilan. Melalui pemahaman akuntansi perpajakan, wajib pajak bisa lebih patuh dan efisien. Kolaborasi dengan Unusa akan membantu memperluas pemahaman itu di kalangan akademisi,” katanya.
Kegiatan ini turut menghadirkan seminar internasional yang membahas transformasi profesi akuntan di era digital. Kepala Program Studi Akuntansi Unusa, Dr. Endah Tri Wahyuningtyas, membuka sesi dengan paparan bertajuk Accounting is Cool: From Classroom to Creative and Global Opportunities. Ia menekankan perlunya perubahan paradigma terhadap profesi akuntan.
“Akuntan masa depan tidak cukup hanya memahami angka, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan teknologi, menjadi analis data, ESG specialist, atau bahkan storyteller keuangan,” tuturnya.
Sementara itu, Emeritus Prof. Dr. Ainin Sulaiman dari University of Malaya Wales menyoroti bagaimana profesi akuntan kini beririsan dengan teknologi mutakhir seperti AI, Big Data, dan Blockchain.
Menurutnya, peran akuntan kini meluas pada riset sosial, etika, hingga keberlanjutan (ESG). “Ini peluang besar bagi generasi muda untuk berpikir global dan memberi dampak lintas disiplin,” ujarnya.
Dr. Sinta Kartikasari, CEO PT Candranaya Lestari, juga turut berbagi pandangan tentang pentingnya disiplin pencatatan keuangan dalam menjaga kesehatan bisnis.
“Tantangan terbesar bukan pada biaya atau regulasi, melainkan pada mindset SDM yang belum siap menghadapi era digital. Setiap data keuangan adalah dasar pengambilan keputusan. Akuntansi justru membuat bisnis lebih efisien dan kreatif,” jelasnya.
Melalui peresmian Tax Center dan penyelenggaraan seminar internasional ini, Unusa meneguhkan komitmennya untuk melahirkan akuntan muda yang berpikiran global, beretika, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Unusa juga ingin menjadi katalis dalam membangun literasi pajak yang kuat, sistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan, serta tata kelola keuangan nasional yang transparan dan inovatif.
***Kunjungi kami di news google KilasJava.id













