KILASJAVA.ID, SURABAYA – Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi dan perubahan zaman, tetapi juga oleh kualitas generasi muda yang mulai dibentuk dari bangku perguruan tinggi. Pesan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak kepada mahasiswa baru Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dalam kuliah perdana pengukuhan mahasiswa baru, Senin (7/9).
Emil mengingatkan bahwa mahasiswa yang memulai perjalanan akademiknya pada 2026 akan menjadi kelompok usia produktif ketika Indonesia memasuki momentum Indonesia Emas 2045. Pada saat itu, mereka diproyeksikan telah berperan sebagai profesional, inovator, maupun pemimpin yang ikut menentukan arah pembangunan bangsa.
“Indonesia Emas 2045 bukan sekadar cita-cita yang masih jauh, tetapi masa depan yang mulai dibangun sejak sekarang,” ujar Emil dalam kuliah bertema Naik Level, Menjadi Generasi Pembelajar, Penggerak, dan Pemberi Dampak Menuju Indonesia Emas 2045.
Menurut Emil, tantangan generasi muda ke depan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan global. Dunia kerja akan mengalami transformasi besar akibat perkembangan artificial intelligence (AI), otomasi, digitalisasi, perubahan ekonomi, dinamika sosial, hingga persoalan iklim, energi, pangan, dan kesehatan.
Ia menyampaikan bahwa berdasarkan World Economic Forum Future of Jobs Report 2025, sekitar 22 persen pekerjaan diperkirakan mengalami disrupsi hingga 2030. Sementara itu, sekitar 39 persen keterampilan pekerja diproyeksikan mengalami perubahan.
Situasi tersebut, kata Emil, menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tetap memiliki peran penting, namun kemampuan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri menjadi modal utama menghadapi masa depan.
“Gelar akademik tetap penting, tetapi kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi akan semakin menentukan perjalanan seseorang,” ujarnya.
Emil juga mengingatkan mahasiswa agar tidak melihat masa depan pekerjaan hanya dari perspektif teknologi. Meski bidang seperti big data, fintech, AI dan machine learning, pengembangan perangkat lunak, serta keamanan diperkirakan berkembang pesat, sektor lain seperti pertanian, konstruksi, pengemudi, dan penjualan juga masih memiliki peluang besar.
Karena itu, mahasiswa perlu membangun keseimbangan antara kemampuan teknologi dengan kekuatan manusia. Kemampuan berpikir kreatif, ketangguhan, fleksibilitas, kolaborasi, kepemimpinan, dan kemauan belajar menjadi keterampilan yang harus terus dikembangkan.
Dalam kesempatan tersebut, Emil menjelaskan bahwa istilah naik level tidak hanya berkaitan dengan kenaikan semester atau capaian akademik. Lebih dari itu, naik level merupakan proses bertumbuh menjadi manusia yang memiliki kapasitas, karakter, dan kontribusi.
Kapasitas memberikan bekal pengetahuan serta keterampilan. Karakter menjadi fondasi integritas, disiplin, empati, dan tanggung jawab. Sedangkan kontribusi menjadi bentuk nyata bagaimana ilmu yang dimiliki dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Emil juga menekankan lima kekuatan yang perlu dimiliki mahasiswa masa depan, yakni karakter, kompetensi, kreativitas, kolaborasi, dan kontribusi.
Dalam menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan, Emil mengajak mahasiswa menggunakan AI secara tepat. Menurutnya, AI harus ditempatkan sebagai copilot yang membantu proses belajar, bukan autopilot yang menggantikan kemampuan berpikir manusia.
AI, kata Emil, dapat dimanfaatkan untuk mencari dan mengolah informasi, menyusun gagasan awal, menganalisis data, melakukan simulasi, serta mempercepat proses pembelajaran. Namun, kemampuan berpikir kritis, kejujuran akademik, verifikasi informasi, empati, tanggung jawab, dan pengambilan keputusan tetap menjadi peran manusia.
“Gunakan AI untuk memperluas pikiran, bukan menggantikan pikiran,” pesan Emil.
Lebih jauh, Emil mendorong mahasiswa agar tidak membatasi proses belajar hanya di ruang kelas. Menurut dia, pembelajaran harus berjalan melalui tahapan learn, do, reflect, improve, dan share.
Jawa Timur, lanjut Emil, dapat menjadi ruang belajar nyata atau living laboratory bagi mahasiswa untuk mengembangkan ilmu sekaligus memberikan kontribusi. Berbagai persoalan seperti kesehatan ibu, anak dan lansia, transformasi layanan kesehatan, ekonomi pesantren dan UMKM, lingkungan dan sampah, ketahanan pangan, literasi digital, serta pendidikan dan pemberdayaan komunitas dapat menjadi ruang pengabdian mahasiswa.
Emil mengajak mahasiswa baru Unusa memulai kontribusi sejak awal masa perkuliahan. Mahasiswa didorong untuk terus belajar melampaui ruang kelas, memanfaatkan teknologi secara cerdas dan beretika, membangun kolaborasi, serta menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut dirangkum Emil melalui empat ajakan utama bagi mahasiswa, yaitu meningkatkan kapasitas diri, memperkuat karakter, memperluas kolaborasi, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar.














