Example 728x250
Ekonomi Bisnis

Produk Makin Kecil, Harga Tetap? Kenali Fenomena Shrinkflation

12
×

Produk Makin Kecil, Harga Tetap? Kenali Fenomena Shrinkflation

Sebarkan artikel ini
Shrinkflation

KILASJAVA.ID, JAKARTA – Pernah merasa camilan favorit lebih cepat habis meski harganya tidak banyak berubah? Atau mendapati ukuran sabun, tisu, hingga produk kebutuhan sehari-hari terasa lebih kecil dibanding sebelumnya?

Perubahan semacam itu bukan sekadar perasaan konsumen. Salah satu fenomena yang dapat menjelaskannya adalah shrinkflation, yakni kondisi ketika produsen mengurangi ukuran, berat, atau volume suatu produk, sementara harga jualnya tetap atau berubah relatif kecil.

Istilah shrinkflation merupakan gabungan dari kata shrink yang berarti menyusut dan inflation atau inflasi. Fenomena ini dapat ditemukan pada berbagai produk konsumsi sehari-hari. Keripik kentang, misalnya, yang sebelumnya dijual dalam kemasan 100 gram dapat berubah menjadi 85 gram dengan harga yang masih berada di kisaran sama. Pola serupa bisa terjadi pada tisu yang jumlah lembarnya berkurang atau detergen cair yang volumenya disesuaikan.

โ€œ Sederhananya, shrinkflation terjadi ketika produsen mengurangi ukuran, berat, atau volume suatu produk, sementara harganya tetap sama atau mengalami perubahan yang relatif kecil,โ€ ujar Michael Hartawan, Head of Retail Banking Brand & Marketing Bank Jago.

Bagi konsumen, perubahan tersebut mungkin tampak kecil. Namun, dampaknya dapat terasa ketika terjadi pada sejumlah produk yang dibeli secara rutin. Produk yang sebelumnya mampu memenuhi kebutuhan selama sebulan, misalnya, bisa lebih cepat habis sehingga frekuensi pembelian meningkat.

Kondisi tersebut membuat konsumen perlu melihat pengeluaran bukan hanya berdasarkan harga yang tertera pada kemasan. Ukuran produk, frekuensi pemakaian, hingga nilai yang diperoleh dari setiap pembelian turut menentukan besarnya biaya yang sebenarnya dikeluarkan.

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengaudit kebutuhan dan pola belanja. Konsumen dapat mencatat produk yang dibeli, jumlah penggunaannya, seberapa sering produk tersebut habis, serta total biaya yang dikeluarkan dalam periode tertentu.

Sebagai contoh, seseorang biasanya membeli sampo berukuran 180 mililiter seharga Rp50.000 dan satu botol dapat digunakan selama dua bulan.

Jika ukuran produk kemudian berubah menjadi 160 mililiter dengan harga yang sama, produk tersebut berpotensi habis lebih cepat.

Dalam satu tahun, perubahan kecil itu dapat membuat konsumen membeli lebih banyak botol. Karena itu, mencatat harga, ukuran, dan frekuensi pembelian menjadi penting untuk mengetahui apakah perubahan ukuran produk benar-benar meningkatkan pengeluaran.

Konsumen juga perlu membandingkan produk berdasarkan harga per satuan, bukan semata-mata berdasarkan harga yang tercetak pada label. Perbandingan dapat dilakukan berdasarkan harga per gram, mililiter, lembar, atau satuan lain yang relevan.

Misalnya, sampo A dijual Rp50.000 untuk ukuran 180 mililiter. Harga per mililiternya sekitar Rp278. Sementara sampo B dibanderol Rp55.000 untuk ukuran 200 mililiter, sehingga harga per mililiternya sekitar Rp275.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60