Example 728x250
Keagamaan

Majelis Ar-Rohimin: Habib Musthofa Jelaskan Makna Diam, Bukan Kelemahan, Tetapi Penjagaan Diri

3
×

Majelis Ar-Rohimin: Habib Musthofa Jelaskan Makna Diam, Bukan Kelemahan, Tetapi Penjagaan Diri

Sebarkan artikel ini
Majelis Ar-Rohimin KilasJava
Pembina Majelis Ar-Rohimin, H. Abdul Rohim (kanan) dan Pengasuh Majelis Ar-Rohimin, Habib Musthofa Bin Zein Al-Alydrus.

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Majelis Ar-Rohimin kembali menggelar kajian rutin dengan mengangkat pembahasan tentang pentingnya menjaga lisan dalam kehidupan seorang muslim. Kajian yang bersumber dari kitab Maroqil ‘Ubudiyah, syarah atas Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali, tersebut disampaikan oleh pengasuh Majelis Ar-Rohimin, Habib Musthofa bin Zein Al-Alydrus.

Dalam kajian Rabu malam, 23 September 2026, Habib Musthofa melanjutkan pembahasan mengenai bab menjaga lisan. Ia menekankan bahwa kemampuan mengendalikan ucapan merupakan bagian penting dari perjalanan memperbaiki akhlak dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pembahasan diawali dengan sebuah syair. Ibrahim al-Ataki, berkata:

ู‚ูŽุงู„ููˆุง ุณููƒููˆุชููƒูŽ ุญูุฑู’ู…ูŽุงู†ูŒ ููŽู‚ูู„ู’ุชู ู„ูŽู‡ูู…ู’
ู…ูŽุง ู‚ูŽุฏู‘ูŽุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุฃู’ุชููŠู†ููŠ ุจูู„ูŽุง ู†ูŽุตูŽุจู
ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ูŠูŽูƒููˆู†ู ูƒูŽู„ูŽุงู…ููŠ ุญููŠู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ุดูุฑูู‡ู
ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูุฌูŽูŠู’ู†ู ู„ูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ุตู‘ูŽู…ู’ุชู ู…ูู†ู’ ุฐูŽู‡ูŽุจู

Syair tersebut memiliki makna bahwa diam tidak selalu berarti kehilangan kesempatan. Apa yang telah Allah tetapkan bagi seseorang akan tetap sampai kepadanya tanpa harus dilakukan dengan cara yang berlebihan. Bahkan jika sebuah perkataan memiliki nilai yang tinggi, pada kondisi tertentu diam tetap lebih utama.

โ€œSeandainya perkataanku ketika aku menyampaikannya terbuat dari perak, niscaya diam itu tetap terbuat dari emas,โ€ demikian pesan yang terkandung dalam syair tersebut.

Dalam penjelasannya, Habib Musthofa menyampaikan bahwa diam memiliki banyak keutamaan. Dalam kajian akhlak disebutkan bahwa terdapat tujuh ribu kebaikan yang terkandung dalam diam, yang dirangkum dalam tujuh perkara utama.

Diam disebut sebagai ketenangan tanpa kelelahan, perhiasan tanpa membutuhkan hiasan, kewibawaan tanpa kekuasaan, serta benteng tanpa penjaga.

Selain itu, diam juga membuat seseorang lebih sedikit membutuhkan permintaan maaf kepada orang lain, memberikan ketenangan bagi para malaikat pencatat amal, serta menjadi penutup terhadap aib dan kekurangan diri.

Hal tersebut sejalan dengan ungkapan:

ุงู„ุตู‘ูŽู…ู’ุชู ุฒูŽูŠู’ู†ูŒ ู„ูู„ู’ุนูŽุงู„ูู…ู ูˆูŽุณูุชู’ุฑูŒ ู„ูู„ู’ุฌูŽุงู‡ูู„ู

โ€œDiam adalah perhiasan bagi orang berilmu dan penutup bagi orang yang tidak berilmu.โ€

Menurut Habib Musthofa, menjaga lisan menjadi salah satu bentuk kehati-hatian seorang muslim dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Sebab, ucapan yang keluar dari mulut seseorang dapat menjadi sumber kebaikan, tetapi juga dapat menjadi penyebab munculnya kesalahan apabila tidak dikendalikan.

Dalam kajian tersebut juga dijelaskan tiga perkara yang dapat menyebabkan kerasnya hati seseorang, yaitu tertawa tanpa sebab yang pantas, makan tanpa rasa lapar, dan berbicara tanpa adanya kebutuhan.

Ketiga hal tersebut menjadi pengingat agar manusia mampu menjaga keseimbangan dalam perilaku, termasuk dalam menggunakan lisannya. Tidak semua hal yang diketahui harus disampaikan, dan tidak semua hal yang mampu dikatakan perlu diucapkan.

Dalam kehidupan sosial, seseorang sering kali menganggap diam sebagai tanda kelemahan atau ketidakpedulian. Namun dalam ajaran akhlak Islam, diam pada tempatnya justru merupakan bentuk kebijaksanaan.

Diam menjadi cara seseorang menjaga diri dari perkataan yang dapat membawa dampak buruk, seperti ghibah, fitnah, mencela orang lain, membuka aib, maupun pembicaraan yang tidak memberikan manfaat.

Sebelum mengucapkan sesuatu, seseorang dianjurkan untuk bertanya kepada dirinya sendiri: apakah perkataan tersebut benar, apakah membawa manfaat, apakah diperlukan, dan apakah akan mendatangkan kebaikan.

Jika sebuah ucapan tidak memenuhi hal tersebut, maka menahan diri untuk tidak berbicara dapat menjadi pilihan yang lebih selamat.

Melalui kajian kitab Maroqil ‘Ubudiyah ini, Habib Musthofa mengajak jemaah Majelis Ar-Rohimin untuk terus memperbaiki akhlak, memperbanyak introspeksi, serta menjadikan lisan sebagai sarana menyampaikan kebaikan.

Majelis Ar-Rohimin terus menjadi ruang pembelajaran keagamaan yang membahas nilai-nilai tasawuf dan akhlak, dengan harapan jemaah tidak hanya bertambah dalam ilmu, tetapi juga semakin baik dalam menjaga perilaku sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60