KILASJAVA.ID, SOLO – Sejak pagi, denyut aktivitas di sekitar Masjid Assegaf dan Masjid Riyadh, Solo, terasa berbeda. Arus jemaah yang datang dari berbagai daerah tidak hanya memenuhi kawasan masjid dan jalan-jalan di sekitarnya, tetapi juga menciptakan keramaian baru bagi para pelaku usaha.
Di sela-sela kepadatan jamaah Haul Solo 2026, puluhan pedagang tampak membuka lapak di sepanjang jalan hingga gang-gang kecil di sekitar kawasan haul.
Mereka datang membawa berbagai dagangan, berharap keramaian jamaah menjadi pintu rezeki sekaligus kesempatan memperkenalkan produk kepada konsumen dari luar daerah.
Bagi sebagian pedagang, Haul Solo bahkan telah menjadi agenda tahunan yang dinanti. Salah satunya Eri, pelaku UMKM asal Madiun yang setiap tahun datang ke Solo untuk menjajakan nasi pecel “Asli Madiun”.
Tahun ini, Eri kembali mendapatkan tempat berjualan di sekitar Pondok Pesantren Ar-Raudhah. Ia mengaku sengaja memanfaatkan momentum haul karena jumlah jemaah yang datang memberikan peluang pasar yang jauh lebih besar dibandingkan hari-hari biasa.
“Jadi ini yang saya maksudkan usaha membawa berkah,” ujar Eri.
Menurut Eri, selama berjualan di kawasan haul, omzet yang diperolehnya rata-rata mencapai lebih dari Rp1 juta dalam sehari. Angka tersebut masih berpeluang meningkat seiring bertambahnya jumlah jamaah yang datang ke Solo.
Harga yang ramah di kantong menjadi salah satu daya tarik dagangannya. Seporsi nasi pecel “Asli Madiun” dibanderol hanya Rp6.000. Harga tersebut membuat makanan khas Madiun ini cukup mudah dijangkau jamaah yang membutuhkan makanan praktis di tengah aktivitas mereka mengikuti rangkaian haul.
Bagi Eri, keuntungan yang diperoleh bukan satu-satunya alasan untuk kembali setiap tahun. Keramaian Haul Solo mempertemukannya dengan konsumen dari berbagai kota. Dari pertemuan tersebut, terbuka peluang bagi produknya untuk dikenal lebih luas.
Fenomena yang dialami Eri menjadi gambaran kecil bagaimana Haul Solo memberikan ruang ekonomi bagi masyarakat.
Pedagang yang hadir bukan hanya berasal dari Solo dan sekitarnya. Pelaku UMKM dari berbagai daerah turut berdatangan untuk mengambil bagian dari geliat perdagangan yang muncul selama pelaksanaan haul.
Keramaian tersebut kemudian menciptakan rantai ekonomi yang lebih panjang. Jamaah yang datang membutuhkan makanan, minuman, tempat menginap, transportasi, hingga berbagai kebutuhan lain selama berada di Solo. Setiap kebutuhan tersebut membuka peluang transaksi bagi pelaku usaha.
Sektor perhotelan menjadi salah satu yang ikut merasakan meningkatnya permintaan. Tingginya jumlah tamu membuat tarif sejumlah hotel mengalami kenaikan hingga sekitar tiga kali lipat dibandingkan kondisi normal. Bahkan, kamar-kamar hotel telah banyak dipesan jauh sebelum hari pelaksanaan haul.
Bagi pelaku usaha lokal, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebuah kegiatan keagamaan dengan jumlah jamaah yang besar memiliki dampak ekonomi yang melampaui lokasi utama kegiatan.
Uang yang dibelanjakan jemaah tidak berhenti di satu titik. Ketika seorang jamaah membeli makanan dari pedagang, pedagang membutuhkan bahan baku.
Ketika jemaah menginap di hotel, hotel membutuhkan berbagai kebutuhan operasional. Pedagang dan pekerja juga membutuhkan transportasi untuk mendukung aktivitas mereka.
Dengan demikian, keberadaan jemaah selama rangkaian Haul Solo menciptakan perputaran ekonomi yang melibatkan banyak lapisan masyarakat.
Bagi UMKM, keramaian seperti ini juga memiliki nilai strategis. Mereka mendapatkan kesempatan berhadapan langsung dengan calon konsumen dari berbagai daerah tanpa harus membuka cabang atau melakukan promosi secara konvensional di kota-kota lain.
Produk kuliner khas daerah menjadi salah satu yang paling mudah menemukan pasarnya. Nasi pecel Madiun yang dibawa Eri, misalnya, tidak hanya menjadi makanan untuk mengganjal perut jemaah, tetapi sekaligus menjadi cara sederhana memperkenalkan identitas kuliner daerah kepada masyarakat yang datang dari berbagai penjuru.
Hal serupa berpotensi terjadi pada produk-produk UMKM lainnya. Keramaian haul menjadi ruang pertemuan antara produk lokal dengan pasar yang lebih luas. Transaksi yang terjadi selama beberapa hari dapat menjadi awal terbentuknya jaringan pelanggan baru.
Dari sisi ekonomi kota, meningkatnya mobilitas masyarakat juga memberikan efek terhadap sektor informal. Warung makan, pedagang kaki lima, toko kelontong, jasa transportasi, penginapan hingga usaha penyedia kebutuhan harian mendapatkan tambahan aktivitas selama periode haul.
Namun bagi para pedagang yang hadir, nilai Haul Solo tidak semata dihitung dari berapa rupiah yang masuk ke dalam kas mereka.
Ada pengalaman bertemu dengan konsumen baru, memperluas jaringan usaha, memperkenalkan produk daerah dan, seperti yang diyakini Eri, mencari keberkahan melalui aktivitas ekonomi.
Di tengah lalu-lalang jamaah yang terus berdatangan, lapak nasi pecel Eri pun tetap melayani pembeli. Seporsi demi seporsi nasi pecel seharga Rp6.000 berpindah ke tangan jamaah, sementara aktivitas perdagangan terus berjalan di antara suasana religius yang memenuhi kawasan Haul Solo 2026.



















