Example 728x250
Pendidikan

Unusa Perkuat Gerakan Kampus Aman, Mahasiswa Diminta Berani Melapor

10
×

Unusa Perkuat Gerakan Kampus Aman, Mahasiswa Diminta Berani Melapor

Sebarkan artikel ini
UNUSA

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Lingkungan kampus seharusnya menjadi ruang untuk belajar, berkembang, dan mengasah prestasi. Bukan tempat untuk merasa takut. Karena itu, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menegaskan sikap keras terhadap berbagai bentuk kekerasan, mulai bullying, intimidasi, diskriminasi, hingga kekerasan seksual.

โ€œPencegahan kekerasan di Unusa adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Kita tidak boleh memberikan ruang sekecil apa pun bagi para pelaku kekerasan,โ€ tegas Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono saat membuka Seminar Kesetaraan Gender bertema โ€œMembangun Kampus yang Aman, Setara, dan Bermartabatโ€, Senin (5/10/2026).

Bagi Unusa, persoalan kekerasan di lingkungan pendidikan tidak bisa diselesaikan hanya dengan membuat aturan. Kesadaran bersama menjadi bagian penting agar kampus benar-benar menjadi ruang yang aman bagi seluruh sivitas akademika.

Seminar tersebut digelar Kantor Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPKPT) Unusa bersama PLATO Foundation. Tiga pembicara hadir membawa perspektif berbeda dalam membahas pencegahan kekerasan di lingkungan kampus.

Arie Rukmantara, CFO Java UNICEF, membahas Protection from Sexual Exploitation, Abuse and Harassment (PSEA). Kemudian dr. Hafid Algristian, Sp.KJ., M.H., Wakil Dekan III FK Unusa, menyampaikan materi โ€œKampus Aman Dimulai dari Kita: Mengenali Kekerasan Berbasis Gender dan Perlindungan Hukumnyaโ€.

Sementara Dita Amalia dari PLATO Foundation membahas peran generasi muda dalam mencegah kekerasan di lingkungan kampus.

Tri Yogi mengatakan, perguruan tinggi tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik. Kampus merupakan ekosistem tempat ilmu pengetahuan berkembang, karakter ditempa, adab ditanamkan, dan nilai kemanusiaan dijunjung.

Lingkungan yang dipenuhi rasa takut, ketidakadilan, dan diskriminasi, menurut dia, akan menyulitkan lahirnya inovasi dan prestasi akademik secara optimal.

Karena itu, seminar tersebut menjadi bagian dari penegasan komitmen Unusa untuk membangun lingkungan kampus yang aman, adil, dan bermartabat.

Kesetaraan gender juga menjadi bagian penting dari komitmen tersebut. Tri Yogi menegaskan, kesetaraan bukan persoalan mempertentangkan laki-laki dan perempuan.

Prinsip tersebut menyangkut hak, tanggung jawab, akses, serta kesempatan yang adil bagi setiap individu untuk belajar, berkembang, mengeksplorasi potensi keilmuan, dan meraih prestasi.

Di sisi lain, kekerasan bisa muncul dalam berbagai bentuk. Tidak hanya fisik dan verbal, tetapi juga intimidasi psikologis, kekerasan seksual, hingga kekerasan yang berlangsung melalui ruang digital.

โ€œKita harus bergerak dari hulu ke hilir: membangun sistem regulasi yang tegas, memperkuat tata kelola pengaduan yang aman dan rahasia, serta menyediakan layanan pendampingan yang berpihak pada korban,โ€ ujar Tri Yogi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60