Profil

Kisah Dokter Benta Anak Pedagang Kecil Madura, Bertahan Kuliah Kedokteran Saat Usaha Orang Tua Nyaris Bangkrut

13
×

Kisah Dokter Benta Anak Pedagang Kecil Madura, Bertahan Kuliah Kedokteran Saat Usaha Orang Tua Nyaris Bangkrut

Sebarkan artikel ini

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Di tengah banyaknya anggapan bahwa kuliah kedokteran identik dengan keluarga berada, kisah Benta Malika El Ghameela justru berjalan sebaliknya. Anak pedagang fotokopi dan percetakan kecil asal Bangkalan, Madura itu harus melewati tekanan ekonomi, rasa minder, hingga ancaman putus kuliah sebelum akhirnya resmi menyandang gelar dokter.

Kamis (21/5/2026), Benta diambil sumpahnya bersama 15 dokter baru Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Di balik senyum tenangnya siang itu, tersimpan perjalanan panjang yang penuh pengorbanan keluarga.

Example 300x600

Pandemi Covid-19 menjadi fase paling berat dalam hidupnya. Usaha fotokopi milik orang tuanya nyaris berhenti total akibat sekolah dan kantor yang tutup. Tidak ada pelanggan. Pemasukan keluarga turun drastis.

Di saat banyak mahasiswa mulai cemas memikirkan biaya pendidikan, Benta bahkan sempat takut tidak bisa melanjutkan kuliah kedokteran.

“Waktu pandemi saya benar-benar kepikiran, apa saya masih bisa lanjut atau tidak,” ujarnya.

Namun kedua orang tuanya memilih bertahan. Demi pendidikan anak pertamanya, mereka banting setir berjualan pakaian agar biaya kuliah tetap terbayar.

“Orang tua saya tidak pernah menunjukkan capeknya. Mereka cuma bilang saya harus fokus belajar,” katanya.

Benta mengaku perjuangan orang tuanya menjadi alasan terbesar dirinya bertahan di tengah kerasnya pendidikan dokter.

Perempuan kelahiran Bangkalan, 9 April 2000 itu sebenarnya sudah bercita-cita menjadi dokter sejak kecil. Keinginan tersebut muncul saat melihat sang kakek harus rutin menjalani cuci darah akibat komplikasi diabetes dan gangguan ginjal.

“Dari situ saya berpikir ingin jadi dokter supaya bisa merawat keluarga sendiri,” tuturnya.

Saat duduk di bangku SMA Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya, impian itu semakin kuat. Dalam setiap surat ulang tahun untuk orang tuanya, Benta selalu menuliskan satu kalimat yang sama.

“Dari putri cantik kalian, dokter Benta.”

Kalimat tersebut ternyata disimpan oleh kedua orang tuanya sebagai bentuk harapan yang terus mereka jaga.

Meski berhasil masuk fakultas kedokteran, perjalanan Benta tidak sepenuhnya mulus. Ia sempat merasa minder karena berasal dari keluarga sederhana.

“Banyak yang bilang anak kedokteran identik dengan mobil bagus dan hidup mewah. Saya datang naik motor biasa, HP saya juga biasa saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Perasaan minder itu perlahan ia lawan dengan membangun kapasitas diri. Benta aktif mengikuti organisasi mahasiswa kedokteran tingkat nasional dan memperluas relasi selama kuliah.

Baginya, latar belakang ekonomi bukan alasan untuk kalah bersaing.

“Saya berpikir harus punya nilai dari kemampuan diri sendiri,” katanya.

Ada pula kebiasaan unik yang selalu dilakukan sang ibu setiap Benta menghadapi ujian. Sebelum masuk ruang ujian, ia akan mengirim pesan berisi nama penguji, jadwal, dan lokasi ujian kepada ibunya di Madura.

Setelah itu, sang ibu mulai membaca Surat Yasin hingga putrinya selesai ujian.

“Kalau saya belum chat selesai, Mama belum berhenti baca Yasin,” kenang Benta haru.

Tradisi sederhana itu menjadi sumber ketenangan di tengah tekanan akademik yang berat selama pendidikan dokter dan masa koas.

Saat menjalani koas, ia juga harus menghadapi jadwal panjang, tugas menumpuk, hingga tekanan mental di rumah sakit. Tetapi ada satu pengalaman yang membuatnya yakin memilih jalan hidup sebagai dokter.

Suatu hari, keluarga pasien menghampirinya setelah anggota keluarganya membaik dan diperbolehkan pulang dari perawatan.

“Dok, terima kasih sudah sering nengok Bapak,” kata keluarga pasien saat itu.

Ucapan singkat tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Benta.

“Saya merasa ternyata keberadaan saya benar-benar berarti untuk orang lain,” ujarnya.

Setelah resmi lulus dokter, Benta kini ingin melanjutkan pendidikan spesialis bedah dan kembali mengabdi di Madura yang menurutnya masih membutuhkan banyak tenaga dokter spesialis.

Example 468x60 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *