Pendidikan

Wamen Diktisaintek Minta Mahasiswa ITS Tak Terjebak Euforia AI

14
×

Wamen Diktisaintek Minta Mahasiswa ITS Tak Terjebak Euforia AI

Sebarkan artikel ini
ITS
Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD (kiri) saat menyerahkan cinderamata kepada Wamen Diktisaintek RI Prof Stella Christie PhD usai menjadi pemateri di PKKMB ITS.

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuka peluang besar bagi dunia pendidikan dan industri. Namun, di balik kemajuan tersebut, mahasiswa diminta tidak larut dalam euforia teknologi tanpa memahami dampak yang menyertainya.

Pesan itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI Prof. Stella Christie PhD saat memberikan pembekalan kepada ribuan mahasiswa baru Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 di GOR Pertamina ITS, Surabaya, Rabu (5/8/2026).

Example 300x600

Dalam paparannya, Stella mengajak mahasiswa melihat perkembangan AI secara objektif. Menurutnya, setiap lompatan teknologi selalu membawa peluang sekaligus risiko yang perlu dianalisis secara kritis.

Ia mencontohkan bagaimana sejarah pernah mencatat munculnya gelembung ekonomi (economic bubble), seperti fenomena perdagangan tulip di Belanda maupun gelembung perusahaan internet atau dot-com bubble. Euforia terhadap suatu inovasi, katanya, dapat memunculkan ekspektasi yang melampaui realitas.

“Kini AI seolah menjadi jawaban atas hampir semua persoalan. Kondisi seperti ini patut dikaji secara kritis agar kita tidak terjebak dalam optimisme yang berlebihan,” ujar Stella.

Guru Besar bidang Kecerdasan Kognitif tersebut menegaskan bahwa AI tetap merupakan inovasi penting yang membawa banyak manfaat.

Namun, pemanfaatannya harus mempertimbangkan konsekuensi terhadap lingkungan dan keberlanjutan.

Menurut Stella, operasional pusat data AI membutuhkan energi listrik dan air dalam jumlah sangat besar. Kebutuhan tersebut diperkirakan akan terus meningkat seiring semakin luasnya penggunaan AI di berbagai sektor.

Besarnya konsumsi sumber daya itu, lanjutnya, menjadi tantangan baru yang perlu dipikirkan bersama oleh akademisi, pemerintah, maupun pelaku industri.

“Kita perlu bertanya apakah manfaat yang diperoleh benar-benar sebanding dengan sumber daya yang harus digunakan,” katanya.

Selain isu keberlanjutan, Stella juga menyoroti perubahan lanskap dunia kerja akibat perkembangan AI. Sejumlah pekerjaan yang sebelumnya dianggap sulit tergantikan kini mulai mengalami transformasi, termasuk profesi di bidang teknologi informasi.

Kemampuan AI menghasilkan kode program secara cepat membuat perusahaan memiliki alternatif baru dalam menyelesaikan berbagai pekerjaan. Karena itu, lulusan perguruan tinggi dituntut memiliki kompetensi yang tidak hanya bersifat teknis.

Menurut Stella, nilai seorang sarjana ke depan lebih banyak ditentukan oleh kemampuan berpikir, menganalisis persoalan, berkolaborasi, serta menciptakan solusi yang memberikan dampak nyata.

Untuk menjawab tantangan tersebut, perguruan tinggi harus menjalankan tiga fungsi utama, yaitu menciptakan pengetahuan (creation of knowledge), mentransmisikan pengetahuan (transmission of knowledge), dan mengkurasi pengetahuan (curation of knowledge).

Ia menjelaskan bahwa AI mampu mengakses berbagai informasi dalam waktu singkat. Namun, teknologi belum dapat sepenuhnya menggantikan kemampuan manusia dalam memilih informasi yang paling relevan, akurat, dan bernilai bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Kemampuan mengkurasi pengetahuan itulah yang dinilai akan menjadi keunggulan manusia di tengah pesatnya perkembangan AI.

Stella juga mengingatkan mahasiswa baru ITS agar memanfaatkan masa kuliah untuk memperkuat kapasitas diri melalui diskusi, riset, kolaborasi, serta pengalaman belajar langsung di lingkungan akademik.

Proses tersebut menjadi bekal penting dalam menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dinamis.

Di akhir pemaparannya, Stella berharap mahasiswa ITS mampu tumbuh sebagai generasi yang adaptif, inovatif, dan memiliki daya pikir kritis sehingga tetap relevan di tengah perkembangan AI yang terus bergerak cepat.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis di era AI menjadi salah satu modal terpenting bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan masa depan, sejalan dengan semangat pendidikan berkualitas dan pengembangan sumber daya manusia yang berkelanjutan.

Example 468x60 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60