Example 728x250
Pendidikan

UNAIR Kembangkan Peternakan Sapi Berbasis Limbah Sawit di Papua Barat

6
×

UNAIR Kembangkan Peternakan Sapi Berbasis Limbah Sawit di Papua Barat

Sebarkan artikel ini
Unair

KILASJAVA.ID, PAPUA BARAT – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) terus memperkuat pengembangan peternakan berbasis sumber daya lokal melalui program “Sapi Sehat, Limbah Sawit Bernilai, Peternak Berdaya” di Distrik Prafi, Manokwari, Papua Barat.

Setelah memperkenalkan pemanfaatan pelepah sawit sebagai pakan alternatif, tim kini mendorong penguatan sistem usaha ternak melalui pendampingan, pencatatan kesehatan ternak, serta pengembangan teknologi pakan.

Perkembangan program tersebut menjadi pembahasan dalam forum koordinasi dan diskusi multipihak yang digelar di Aula Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Papua Barat, Kabupaten Manokwari, pada Selasa (1/9/2026).

Forum tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan BRMP Papua Barat, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua Barat, Dinas Peternakan, Kesehatan Hewan, dan Perikanan Kabupaten Manokwari, Kelompok Penyuluhan Pertanian Provinsi Papua Barat, hingga BPP Prafi.

Pertemuan itu membahas perkembangan program sekaligus kebutuhan penguatan peternakan berbasis potensi lokal. Salah satu fokus utama adalah bagaimana inovasi yang diperkenalkan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat peternak di wilayah tersebut.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot UNAIR, Prof Dr Erma Safitri drh MSi, mengatakan program tersebut menggunakan pendekatan learning by doing melalui penyuluhan, pendampingan lapangan, serta praktik langsung bersama peternak.

Pendekatan tersebut, menurut dia, tidak hanya bertujuan meningkatkan produktivitas ternak, tetapi juga memperkuat sistem usaha peternakan secara menyeluruh.

“Program ini tidak serta-merta berfokus pada peningkatan produktivitas. Tetapi juga penguatan sistem usaha ternak melalui pencatatan ternak, pendampingan peternak potensial, pelibatan masyarakat pemilik lahan sawit, serta pengembangan distribusi hasil ternak,” jelas Prof Erma.

Dalam diskusi bersama para pemangku kepentingan, tim menemukan tantangan berupa masih dominannya sistem penggembalaan bebas yang diterapkan peternak.

Kondisi tersebut menyebabkan pengelolaan dan pemantauan ternak menjadi lebih sulit, terutama ketika peternak mulai menerapkan program penggemukan sapi.

Sebagai upaya mengatasi tantangan tersebut, tim mendorong praktik langsung pembuatan silase agar peternak memahami teknologi pengolahan pakan secara lebih aplikatif.

Menurut Prof Erma, pengembangan silase tidak hanya berkaitan dengan proses pembuatannya, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek nutrisi, kebutuhan mineral, biaya produksi, serta efektivitasnya dalam mendukung penggemukan sapi.

“Dalam pengembangan silase, kami tidak sekadar melihat proses pembuatannya. Tetapi juga perlu memperhatikan kandungan nutrisi, kebutuhan mineral, biaya produksi, dan efektivitasnya dalam mendukung penggemukan sapi.

Hal-hal tersebut penting agar inovasi pakan yang kami kenalkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan peternak dan dapat diterapkan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Selain pengembangan teknologi pakan, Tim Ekspedisi Patriot UNAIR juga mulai membangun sistem pendataan kesehatan ternak melalui kegiatan Posyandu Ternak Keliling di kawasan SP3 (Satuan Pemukiman) dan SP4.

Dalam kegiatan tersebut, tim melakukan pendataan ternak, pemberian obat cacing, suplementasi vitamin, serta penyusunan basis data kesehatan ternak. Kegiatan serupa juga direncanakan berlangsung di SP1 dan SP2.

Prof Erma menjelaskan, pendataan menjadi bagian penting dalam pengelolaan ternak karena kondisi setiap hewan perlu dipantau secara berkala. Dengan basis data yang lebih teratur, peternak dan pendamping dapat mengetahui perkembangan kesehatan ternak serta menentukan langkah pengelolaan yang lebih tepat.

Ke depan, pengembangan model peternakan di Prafi akan melibatkan kolaborasi antara pemerintah daerah, penyuluh, perguruan tinggi, dan masyarakat. Program tersebut diarahkan sebagai dasar penyusunan blueprint pembangunan peternakan berbasis integrasi sapi dan kelapa sawit.

Program “Sapi Sehat, Limbah Sawit Bernilai, Peternak Berdaya” juga mendukung sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan, yaitu SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 15 (Ekosistem Daratan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan peternakan, ekonomi sirkular, serta pemanfaatan sumber daya lokal.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60