KILASJAVA.ID, BOYOLALI – Tanaman lidah buaya yang selama ini dikenal sebagai tanaman pekarangan diolah menjadi minuman dengan bentuk yang berbeda di tangan Aditya Bahari, warga Desa Manjung, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali. Sejak 2024, ia mengembangkan lidah buaya menjadi dawet yang dijual di depan rumahnya.
Usaha tersebut dijalankan Aditya di sela kesibukannya mengajar di pondok pesantren. Ia mengolah lidah buaya sebagai bahan utama pengganti cendol pada dawet yang dibuatnya.
Aditya mengatakan kegemarannya mengolah lidah buaya berawal dari kebiasaan berkebun bersama ayahnya sejak kecil. Tanaman tersebut ditanam di pekarangan rumah dan sebelumnya hanya dimanfaatkan untuk dijual dalam bentuk bibit maupun pelepah.
“Awalnya sejak kecil bersama ayah senang berkebun dan bertanam lidah buaya di pekarangan rumah. Dulu hanya sebatas menjual bibit tanaman dan pelepah lidah buaya karena belum tahu cara pengolahannya,” kata Aditya.
Seiring waktu, ia mencoba mempelajari cara mengolah lidah buaya menjadi makanan dan minuman. Dari proses tersebut lahir gagasan membuat dawet dengan bahan yang berbeda dari dawet pada umumnya.
Dawet lidah buaya tersebut menggunakan lidah buaya sebagai pengganti cendol. Minuman ini juga tidak menggunakan santan, melainkan creamer, serta gula aren alami sebagai pemanis.
Menurut Aditya, penggunaan bahan tersebut membuat dawet lidah buaya memiliki rasa yang segar. Produk itu disebut dapat bertahan hingga empat hari apabila disimpan di dalam kulkas.
Lidah buaya sendiri dikenal mengandung vitamin C, vitamin E, dan antioksidan. Dalam naskah usahanya, Aditya menyebut tanaman tersebut memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan tubuh, antara lain untuk membantu menyuburkan rambut, mengobati luka bakar, menurunkan kadar gula, melancarkan buang air besar, serta membantu mengatasi asam lambung.
Usaha yang dijalani Aditya kemudian berkembang. Pria yang memiliki satu anak itu kini telah memiliki cabang kemitraan dawet lidah buaya di Bandung. Produknya juga melayani pengiriman ke seluruh Indonesia melalui Paxel.
Dawet lidah buaya tersebut dijual dengan harga Rp6.000 per cup dan Rp10.000 per botol. Minuman ini ditawarkan sebagai pilihan minuman yang menyegarkan, terutama untuk dinikmati saat cuaca panas.
Aditya juga menyebut dawet lidah buaya tidak dianjurkan dikonsumsi oleh perempuan yang sedang hamil.
Bagi masyarakat yang ingin menikmati dawet lidah buaya maupun tertarik dengan usaha kemitraannya, produk tersebut dapat diperoleh dengan datang langsung ke Desa Manjung, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali.




















