Terkini

Kajian di Majelis Ar-rohimin, Nikmat dan Musibah Sama-sama Jalan Menuju Allah

13
×

Kajian di Majelis Ar-rohimin, Nikmat dan Musibah Sama-sama Jalan Menuju Allah

Sebarkan artikel ini
Majelis Ar-Rohimin

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Tidak semua nikmat hadir dalam bentuk kebahagiaan. Ada kalanya ia datang sebagai kehilangan, kesulitan, bahkan musibah yang terasa berat. Cara pandang inilah yang menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Kajian Kitab Bidayatul Hidayah yang digelar Majelis Ar-Rohimin, Rabu (1/7/2026), dengan pemateri Habib Musthofa bin Zen Al-Aydrus, S.Si.

Mengacu pada pemikiran Imam Al-Ghazali, Habib Musthofa yang juga pengasuh Majelis Ar-Rohimin, menjelaskan bahwa manusia kerap keliru memaknai nikmat hanya sebatas kesehatan, kekayaan, jabatan, atau keberhasilan. Padahal, dalam pandangan ulama besar tersebut, seluruh ketetapan Allah pada hakikatnya adalah nikmat, hanya bentuknya yang berbeda.

Example 300x600

“Allah memberikan nikmat dalam dua bentuk. Ada yang sesuai dengan keinginan manusia sehingga menghadirkan rasa senang, dan ada yang hadir dalam bentuk ujian. Keduanya sama-sama mengandung kebaikan apabila disikapi dengan benar,” ujarnya.

Ia menerangkan, nikmat yang menyenangkan berupa kesehatan, rezeki, keluarga, ilmu, maupun kesempatan berbuat baik harus dibalas dengan rasa syukur. Syukur tidak berhenti pada ucapan, melainkan diwujudkan melalui pemanfaatan seluruh nikmat itu untuk menjalankan ketaatan kepada Allah.

Sebaliknya, kesulitan hidup tidak serta-merta menjadi pertanda keburukan. Imam Al-Ghazali memandang ujian sebagai bagian dari pendidikan spiritual yang dapat menghapus dosa, menumbuhkan kesabaran, dan menguatkan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Menurut Habib Musthofa, sikap yang membedakan seseorang ketika menghadapi ujian adalah kesabaran dan qanaah, yakni menerima ketetapan Allah tanpa berburuk sangka kepada-Nya. Dengan cara itulah sebuah musibah dapat berubah menjadi ladang pahala.

Pembahasan kemudian bergeser pada makna amanah yang menjadi salah satu fondasi kehidupan seorang muslim. Amanah, kata Habib Musthofa, tidak hanya melekat pada jabatan atau tanggung jawab sosial, tetapi juga pada setiap anggota tubuh yang dimiliki manusia.

Mata adalah amanah yang harus dijaga dari pandangan yang diharamkan. Telinga digunakan untuk mendengar hal-hal yang membawa kebaikan. Lisan dijaga dari perkataan yang menyakiti, dusta, maupun fitnah. Seluruh anggota badan, menurut Imam Al-Ghazali, akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

“Dalam Islam, manusia bukan pemilik mutlak atas dirinya. Semua yang dimiliki hanyalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban,” kata Habib Musthofa.

Pada bagian lain, ia mengulas pembahasan mengenai kepemimpinan. Menurut Imam Al-Ghazali, jabatan bukanlah simbol kemuliaan yang layak dibanggakan, melainkan amanah yang semakin berat seiring besarnya tanggung jawab yang dipikul.

Seorang pemimpin berkewajiban menjaga hak rakyat, menegakkan keadilan, memenuhi kebutuhan masyarakat, dan menghindarkan diri dari tindakan zalim. Amanah serupa juga berlaku dalam lingkup keluarga.

Seorang suami bertanggung jawab membimbing dan menafkahi keluarganya, sedangkan istri berkewajiban menjaga rumah tangga, kehormatan keluarga, serta amanah yang dipercayakan kepadanya.

Habib Musthofa menegaskan bahwa prinsip amanah juga berlaku bagi setiap orang yang menerima kepercayaan, termasuk pekerja, pelayan, maupun siapa saja yang diberi tanggung jawab atas harta dan pekerjaan.

Pandangan tersebut selaras dengan sabda Rasulullah SAW, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim itu menunjukkan bahwa kepemimpinan selalu diikuti oleh tanggung jawab moral di hadapan Allah.

Karena itu, menurut Habib Musthofa, ukuran kemuliaan seorang pemimpin bukan terletak pada tinggi rendahnya jabatan, melainkan pada kemampuannya menjaga amanah dan menghadirkan kemaslahatan bagi orang lain.

Menjelang akhir kajian, ia membacakan sebuah syair yang mengingatkan bahwa setiap amal, ucapan, dan niat manusia tidak akan pernah luput dari perhitungan Allah SWT. Pengingat itu mengajak setiap muslim untuk terus memperbaiki akhlak, menjaga perilaku, serta menjadikan kehidupan dunia sebagai kesempatan memperbanyak bekal menuju kehidupan akhirat.

 

Example 468x60 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *