Terkini

Abdul Rohim Soroti Dampak AI, Pesantren Disebut Punya Peran Strategis Bentuk Generasi Berakhlak

13
×

Abdul Rohim Soroti Dampak AI, Pesantren Disebut Punya Peran Strategis Bentuk Generasi Berakhlak

Sebarkan artikel ini
Abdul Rohim
H. Abdul Rohim, Pembina Majelis Ar-Rohimin, Surabaya, dengan latar belakang para jemaah yang sedang mengikuti acara rutinan Rabu malam.

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan derasnya arus informasi digital menghadirkan tantangan baru bagi generasi muda.

Di tengah kemudahan memperoleh dan menyebarkan informasi, kemampuan untuk memilah, memverifikasi, dan memahami informasi menjadi semakin penting agar kemajuan teknologi tidak berjalan beriringan dengan kemunduran akhlak dan moral.

Pembina Majelis Ar-Rohimin, Tambak Dalam Baru 1B, Surabaya, H. Abdul Rohim, menilai kemajuan teknologi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan sebuah negara.

Namun, kemajuan tersebut, menurut dia, perlu diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam mengendalikan dan menyaring dampaknya.

“Kita memang tidak bisa memungkiri kemajuan teknologi saat ini, dan itu memang sudah bagian dari pertumbuhan suatu negara manapun di dunia, namun yang harus dilakukan adalah jangan terlalu larut dalam euforia teknologi, harus ada filter dari semua itu,” kata Abdul Rohim dalam wawancara eksklusif seusai acara malam tirakatan. Minggu (16/8/2026).

Menurut Abdul Rohim, persoalan utama bukan terletak pada perkembangan teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana manusia menggunakannya.

Teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas pengetahuan, meningkatkan produktivitas, dan membuka akses informasi. Namun, tanpa kecakapan moral dan kemampuan berpikir kritis, derasnya informasi justru dapat membentuk cara pandang yang keliru.

Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks dengan hadirnya AI. Teknologi ini memungkinkan masyarakat memperoleh informasi, menghasilkan tulisan, gambar, maupun berbagai bentuk konten dalam waktu singkat.

Di sisi lain, kemudahan tersebut juga membuat masyarakat menghadapi tantangan baru berupa informasi yang belum tentu benar, konten manipulatif, hingga penyebaran narasi yang tidak memiliki dasar yang memadai.

Karena itu, Abdul Rohim menilai pendidikan agama memiliki posisi strategis dalam membangun kemampuan generasi muda menghadapi perubahan teknologi.

Pendidikan agama tidak hanya berkaitan dengan pemahaman mengenai ibadah, tetapi juga pembentukan karakter, etika, tanggung jawab, dan kemampuan membedakan antara sesuatu yang baik dan buruk.

“Ini kembali lagi kepada cara kita memberikan didikan kepada anak-anak kita, apakah kita akan membiarkan anak-anak kita terseret arus teknologi, atau kita mendidik mereka dengan cara memasukkan mereka ke pesantren,” tegasnya.

Dalam konteks itu, keberadaan pondok pesantren dinilai memiliki relevansi yang semakin kuat. Pesantren tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya pendidikan agama, tetapi juga ruang pembentukan kepribadian yang menempatkan ilmu, adab, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kehidupan sosial sebagai bagian dari proses pendidikan.

Pesantren memiliki tradisi pendidikan yang tidak hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga bagaimana ilmu tersebut digunakan.

Relasi antara ilmu dan akhlak menjadi salah satu fondasi penting agar seseorang tidak berhenti pada kecakapan intelektual, tetapi mampu mempertanggungjawabkan perilakunya di tengah masyarakat.

Peran tersebut menjadi penting ketika generasi muda tumbuh dalam lingkungan digital yang memungkinkan berbagai nilai dan pandangan masuk tanpa batas geografis maupun budaya.

Anak-anak dan remaja tidak hanya berhadapan dengan informasi yang berasal dari lingkungan keluarga dan sekolah, tetapi juga dengan konten yang muncul melalui media sosial, platform video, mesin pencari, serta teknologi berbasis AI.

Abdul Rohim menyebut perubahan karakter antargenerasi sebagai bagian dari dinamika zaman yang tidak dapat dihindari. Generasi X, generasi Y atau milenial, Gen Z, Gen Alpha hingga Gen Beta tumbuh dalam lingkungan sosial dan teknologi yang berbeda.

“Ada yang namanya generasi X, generasi Y atau generasi milenial, Gen Z, Gen Alpha hingga Gen Beta, ini semua perubahan dan perkembangan zaman yang tidak bisa kita pungkiri,” katanya.

Perbedaan karakter dan lingkungan tumbuh tersebut menuntut pendekatan pendidikan yang juga mampu mengikuti perubahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60