Dalam konteks Indonesia yang kini memasuki usia 81 tahun kemerdekaan, warisan tersebut dinilai masih relevan. Tantangan yang dihadapi memang berubah.
Jika generasi sebelumnya berhadapan dengan ancaman kolonialisme dan perjuangan fisik, generasi saat ini menghadapi tantangan yang lebih kompleks dalam bentuk perubahan teknologi, disrupsi informasi, dan pergeseran nilai.
Karena itu, pembangunan manusia Indonesia tidak cukup hanya diukur melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kemampuan intelektual perlu berjalan beriringan dengan integritas, tanggung jawab sosial, serta akhlak.
Pondok pesantren memiliki ruang yang cukup strategis untuk berkontribusi dalam proses tersebut.
Sistem pendidikan pesantren yang menempatkan pembelajaran agama, kehidupan bersama, kedisiplinan, dan keteladanan sebagai bagian dari keseharian dapat menjadi modal dalam membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral.
Pendidikan berbasis pesantren juga dapat memperkuat kesadaran bahwa ilmu memiliki konsekuensi etis.
Pengetahuan dan teknologi pada akhirnya merupakan alat, sedangkan arah penggunaannya sangat ditentukan oleh karakter manusia yang menguasainya.
Di tengah perkembangan AI, prinsip tersebut menjadi semakin relevan. Generasi muda perlu memahami bahwa kemampuan teknologi yang semakin besar juga membawa tanggung jawab yang semakin besar.
Kecerdasan buatan dapat membantu manusia menyelesaikan berbagai persoalan, tetapi keputusan mengenai bagaimana teknologi digunakan tetap berada pada manusia.
Abdul Rohim melihat majelis taklim, pondok pesantren, pengajian, mimbar selawat, dan berbagai kegiatan syiar Islam dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan masyarakat.

Ruang-ruang tersebut dapat digunakan untuk memperkuat pemahaman agama sekaligus membangun kedewasaan dalam menghadapi perubahan sosial.
Menurut dia, masyarakat juga perlu memastikan bahwa ilmu agama diperoleh dari sumber yang memiliki kompetensi dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hal tersebut penting agar pendidikan agama tidak berhenti pada aspek pengetahuan, tetapi mampu diterjemahkan menjadi perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Pada titik inilah peran pesantren dapat ditempatkan lebih luas. Pesantren bukan hanya tempat untuk mempelajari teks keagamaan, melainkan institusi yang dapat membangun manusia dengan keseimbangan antara ilmu, iman, akhlak, dan tanggung jawab sosial.
Generasi yang tumbuh di tengah teknologi membutuhkan kemampuan untuk bergerak cepat, tetapi sekaligus memiliki kemampuan untuk berhenti sejenak ketika menghadapi informasi yang meragukan.
Mereka perlu mampu membedakan antara popularitas dan kebenaran, antara kebebasan berpendapat dan tanggung jawab, serta antara kecanggihan teknologi dan kebijaksanaan dalam menggunakannya.
Dalam pandangan Abdul Rohim, pendidikan semacam itu menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi menuju Indonesia Emas.
Kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh teknologi berkembang, tetapi juga oleh kualitas manusia yang berada di belakang teknologi tersebut.
Karena itu, penguatan pendidikan agama, keluarga, sekolah, majelis taklim, dan pondok pesantren menjadi bagian dari upaya membangun generasi yang mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan pijakan nilai.
Di tengah arus informasi yang semakin cepat, kemampuan untuk berpikir matang, memeriksa kebenaran, dan menjaga akhlak menjadi bekal yang tidak kalah penting dari kemampuan menguasai teknologi.













