“Beliau menyampaikan ingin segera ada MoU antara kementerian dengan ITS. Saat ini memang belum ada, sehingga akan segera kami tindak lanjuti,” kata Bambang.
Menurut Bambang, komposter cepat menjadi salah satu inovasi yang paling menarik perhatian Menteri karena mampu menjawab persoalan limbah makanan yang setiap hari dihasilkan dapur SPPG.
“Pak Menteri melihat teknologi ini sangat cocok diterapkan di dapur SPPG karena setiap hari pasti menghasilkan sisa makanan yang berpotensi menjadi limbah,” ujarnya.
ITS juga memperkenalkan instalasi pengolahan air limbah yang mampu menghasilkan air dengan kualitas yang aman untuk dikembalikan ke lingkungan.
Selain itu, Siklusin dikembangkan tidak hanya sebagai sistem pelacakan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, tetapi juga terhubung dengan marketplace produk hasil daur ulang sehingga memperkuat ekosistem ekonomi sirkular.
Dalam kesempatan itu, ITS turut memaparkan peta jalan Net Zero Emission (NZE) 2026–2030 yang menjadi bagian dari strategi kampus dalam mendukung target penurunan emisi karbon nasional.
Menurut Bambang, komposter cepat ITS kini memasuki tahap persiapan produksi massal. Potensi pemanfaatannya dinilai sangat besar, terutama di sektor perhotelan, restoran, kawasan wisata, hingga berbagai fasilitas pelayanan publik yang menghasilkan limbah organik setiap hari.
“Saya juga sudah menyampaikan teknologi ini kepada Gubernur Bali karena sangat cocok digunakan di restoran dan hotel. Pak Menteri pun menilai teknologi ini memiliki prospek yang sangat baik,” kata Bambang.
Ia menjelaskan ITS telah menyiapkan skema kolaborasi dengan sektor industri apabila permintaan pasar meningkat dalam jumlah besar, sehingga proses produksi dapat dilakukan secara lebih cepat dan memenuhi kebutuhan implementasi di berbagai daerah.










