KILASJAVA.ID, SURABAYA – Godaan terbesar manusia sering kali tidak datang dari perbuatan besar, melainkan dari sesuatu yang tampak sederhana: pandangan mata. Pesan itulah yang mengemuka dalam pengajian rutin Kitab Bidayatul Hidayah di Majelis Ar-Rohimin, Jalan Tambak Dalam Baru 1B, Surabaya, Rabu (29/7/2026).
Pengajian yang berlangsung setiap Rabu malam tersebut menghadirkan Pengasuh Majelis Ar-Rohimin, Habib Mustofa bin Zen. Pada kesempatan itu, ia mengupas bab Hifzhul ‘Ain atau menjaga pandangan, salah satu pembahasan penting dalam karya ulama besar Imam Abu Hamid al-Ghazali.
Menurut Habib Mustofa, menjaga pandangan bukan sekadar persoalan etika, melainkan perintah syariat yang memiliki dampak besar terhadap kualitas iman seseorang. Mata menjadi gerbang pertama yang menghubungkan dunia luar dengan hati. Apa yang dilihat akan membentuk pikiran, memengaruhi perasaan, hingga menentukan arah perilaku manusia.
“Ketika pandangan dijaga, hati akan lebih mudah dijaga. Sebaliknya, pandangan yang dibiarkan bebas menjadi awal lahirnya syahwat dan berbagai bentuk kemaksiatan,” terang Habib Mustofa dalam kajian tersebut.
Ia menjelaskan, Islam melarang seseorang memandang aurat maupun lawan jenis yang bukan mahram dengan disertai syahwat. Namun, syariat juga memberikan keringanan terhadap pandangan pertama yang terjadi tanpa disengaja. Yang menjadi dosa adalah ketika seseorang sengaja mengulang dan menikmati pandangan yang diharamkan.
Habib Mustofa menekankan, banyak kerusakan moral bermula dari pandangan yang tidak dikendalikan. Karena itu, kemampuan menundukkan pandangan merupakan salah satu indikator ketakwaan sekaligus benteng yang menjaga hati dari berbagai godaan.
Dalam kajian tersebut, ia mengutip ungkapan para ulama:
“Al-‘ainu babu al-qalb, fa idza hufizhat al-‘ain hufizhal qalb, wa idza fasada an-nazhar fasadal qalb.”
Artinya, “mata adalah pintu hati. Apabila mata dijaga, hati pun akan terjaga. Sebaliknya, apabila pandangan rusak, maka hati pun akan rusak”.
Ungkapan tersebut menjadi penegasan bahwa hidayah tidak hanya diraih melalui ibadah yang tampak, tetapi juga melalui kemampuan mengendalikan pancaindra. Menjaga mata merupakan langkah awal menjaga kebersihan hati sekaligus membangun karakter seorang mukmin.
Habib Mustofa kemudian merangkum sejumlah pelajaran penting dari bab Hifzhul ‘Ain. Di antaranya, menjaga pandangan merupakan perintah Allah, haram memandang aurat atau lawan jenis yang bukan mahram dengan syahwat, pandangan pertama yang tidak disengaja mendapat keringanan, sedangkan pandangan yang disengaja dan diulang menjadi dosa. Selain itu, mata yang terjaga akan menjaga hati, sementara pandangan yang liar menjadi pintu masuk lahirnya syahwat dan berbagai bentuk kemaksiatan.
Sebagai penutup, kajian dihiasi pembacaan syair klasik yang selama berabad-abad menjadi nasihat para ulama tentang pentingnya menjaga pandangan. Syair tersebut menggambarkan bahwa berbagai musibah besar sering kali berawal dari satu pandangan, sebagaimana kobaran api berasal dari percikan kecil.
Pandangan yang tampak sepele dapat menembus hati layaknya anak panah, menghadirkan kenikmatan sesaat, tetapi meninggalkan luka yang berkepanjangan.
Pembina Majelis Ar-Rohimin, H. Abdul Rohim, berharap majelis ini terus menjadi wadah bagi masyarakat untuk memperdalam ilmu agama sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah.
Kajian Kitab Bidayatul Hidayah diharapkan tidak hanya memperluas wawasan keislaman, tetapi juga menjadi bekal bagi jamaah dalam menghadapi tantangan kehidupan modern yang semakin sarat godaan visual dan informasi.













