KILASJAVA.ID, JOMBANG – Agenda reses Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur, Wiwin Sumrambah, di Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, Jumat (31/7/2026), berubah menjadi ruang dialog yang dipenuhi beragam aspirasi masyarakat. Ratusan warga dari berbagai kalangan hadir untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi, mulai dari petani, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), peternak, hingga masyarakat umum.
Bagi Wiwin, reses tidak sekadar menjadi kewajiban konstitusional anggota legislatif. Kegiatan tersebut merupakan kesempatan untuk memperoleh gambaran langsung mengenai kebutuhan masyarakat sekaligus memetakan persoalan yang memerlukan intervensi kebijakan pemerintah daerah.
Agar komunikasi berlangsung terbuka, politisi Fraksi PDI Perjuangan itu meminta penyelenggara mengemas kegiatan secara lebih santai. Menurut dia, suasana yang cair akan mendorong masyarakat menyampaikan persoalan tanpa rasa sungkan.
“Makanya tadi saya minta ke tim panitia agar acaranya dibuat santai, supaya peserta reses nyaman dan tidak takut menyampaikan berbagai aspirasinya. Jadi setiap turun ke desa-desa saya memang berusaha mendalami, bertanya, sekaligus mengamati apa yang benar-benar urgen dan dibutuhkan masyarakat,” ujar Wiwin.
Setelah sesi pembukaan, dialog berlangsung interaktif. Warga bergantian menyampaikan usulan yang mencerminkan kebutuhan riil di tingkat desa. Sektor pertanian menjadi salah satu perhatian utama, ditandai dengan permintaan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk meningkatkan produktivitas. Di sisi lain, pembangunan jalan lingkungan dan jalan usaha tani juga dinilai mendesak karena berkaitan langsung dengan mobilitas warga serta distribusi hasil panen.
Selain persoalan infrastruktur, masyarakat mengusulkan dukungan bagi kelompok peternak dan pelaku UMKM. Permodalan, bantuan sarana usaha, hingga penguatan ekonomi bagi kelompok usaha yang dikelola ibu rumah tangga menjadi aspirasi yang cukup dominan dalam forum tersebut.
Wiwin mengatakan seluruh masukan yang diterima tidak akan serta-merta diajukan sebagai program. Menurut dia, setiap usulan akan melalui proses verifikasi dan kajian agar sesuai dengan kebutuhan serta mekanisme perencanaan pembangunan di tingkat provinsi.
“Semua aspirasi tadi sudah saya catat. Selanjutnya akan kami pelajari bersama mana yang memang layak dan menjadi prioritas untuk diajukan. Setelah itu baru kami kirim ke provinsi agar bisa mendapat dukungan melalui program-program dewan,” katanya.
Ia menilai kebutuhan masyarakat Ngusikan cukup beragam dan memerlukan pendekatan lintas sektor. Pertanian tetap menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat setempat sehingga membutuhkan dukungan peralatan maupun infrastruktur penunjang. Pada saat yang sama, penguatan sektor peternakan dan UMKM juga dipandang penting sebagai upaya memperluas sumber pendapatan masyarakat desa.
“Tadi ada yang mengusulkan bantuan alsintan, pembangunan jalan kampung dan jalan usaha tani, bantuan peternakan, hingga bantuan UMKM untuk ibu-ibu rumah tangga. Alhamdulillah kegiatan berjalan interaktif dan lancar. Semoga semua aspirasi yang menjadi prioritas bisa diperjuangkan dan direalisasikan sesuai harapan masyarakat,” ujarnya.
Di tengah dialog, seorang peserta reses bernama Kholifah menyampaikan persoalan yang dihadapi para pedagang di lingkungan SD Negeri Sumbernongko, Kecamatan Ngusikan. Selama ini mereka berjualan tanpa didukung fasilitas yang memadai karena sekolah belum memiliki kantin maupun deretan kios permanen.
Kondisi tersebut membuat para pedagang menempati area seadanya sehingga aktivitas jual beli terlihat kurang tertata. Menurut Kholifah, keberadaan kantin atau kios sekolah tidak hanya akan memberikan tempat usaha yang lebih layak, tetapi juga menciptakan lingkungan sekolah yang lebih rapi dan nyaman bagi siswa maupun masyarakat.
“Sekolah itu belum memiliki ruko atau kantin, Bu. Jadi kami berjualan di tempat seadanya sehingga kurang rapi. Mudah-mudahan pemerintah bisa membangunkan kantin atau ruko sekolah agar ibu-ibu yang berjualan memiliki tempat yang lebih layak,” kata Kholifah.













