Pendidikan

Mahasiswa Baru Rentan Stres? Pakar UNAIR Bagikan Strategi Adaptasi yang Efektif

9
×

Mahasiswa Baru Rentan Stres? Pakar UNAIR Bagikan Strategi Adaptasi yang Efektif

Sebarkan artikel ini
Psikologi Unair
Pakar Psikologi Perkembangan dan Pendidikan Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Dewi Retno Suminar, Dra., M.Si., Psikolog.

KILASJAVA.ID, SURABAYA – Memasuki bangku kuliah bukan sekadar perpindahan jenjang pendidikan, tetapi juga fase transisi yang menuntut kesiapan mental. Di tengah lingkungan baru, pola belajar yang berbeda, hingga tuntutan untuk mandiri, kemampuan beradaptasi justru menjadi faktor yang lebih menentukan keberhasilan mahasiswa dibanding sekadar kecerdasan akademik.

Pakar Psikologi Perkembangan dan Pendidikan Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Dewi Retno Suminar, Dra., M.Si., Psikolog, menegaskan bahwa tantangan terbesar yang hampir selalu dihadapi mahasiswa baru adalah proses penyesuaian diri terhadap lingkungan kampus yang sama sekali baru.

Example 300x600

“Tantangan terbesar adalah adaptasi dengan lingkungan baru, mengingat teman maupun suasana yang juga baru. Kegagalan dalam beradaptasi menjadi sumber tantangan mental utama bagi mahasiswa baru,” ujar Dewi, Jumat (31/7/2026).

Menurutnya, mahasiswa yang mampu beradaptasi lebih cepat akan lebih mudah membangun rasa percaya diri, menikmati proses belajar, dan mengurangi risiko mengalami tekanan psikologis selama menjalani perkuliahan.

Adaptasi Menjadi Penentu Kesuksesan Kuliah

Dewi menjelaskan bahwa keberhasilan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual. Dunia perguruan tinggi menuntut mahasiswa memiliki kemandirian, kemampuan mengelola emosi, tanggung jawab, serta kecakapan membangun hubungan sosial.

Karena itu, mahasiswa baru tidak cukup hanya mengandalkan prestasi akademik. Kemampuan berinteraksi, bekerja sama, dan menyelesaikan persoalan sehari-hari di lingkungan kampus menjadi bagian penting dari proses pembelajaran.

Bangun Pertemanan Sejak Hari Pertama

Salah satu langkah paling efektif untuk mempercepat adaptasi ialah membangun relasi sejak awal memasuki kampus. Dewi menyarankan mahasiswa baru aktif berkenalan dengan teman sekelas maupun bergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sesuai minat dan bakat.

Melalui aktivitas organisasi maupun komunitas, mahasiswa akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan serupa sehingga lebih mudah membangun rasa nyaman. Dukungan sosial tersebut juga berperan penting dalam mengurangi kecemasan dan tekanan selama menjalani masa transisi.

“Wajib bagi mahasiswa baru mencoba mendapatkan teman. Interaksi dengan teman yang memiliki minat yang sama akan membantu proses adaptasi dan menjadi dukungan ketika menghadapi kecemasan maupun stres,” katanya.

Bijak Menggunakan Media Sosial

Di era digital, tantangan mahasiswa baru tidak hanya datang dari kehidupan kampus, tetapi juga media sosial. Dewi mengingatkan agar mahasiswa tidak terjebak dalam fenomena fear of missing out (FOMO), yaitu kecemasan karena merasa tertinggal dari orang lain.

Sebagai alternatif, ia memperkenalkan konsep joy of missing out (JOMO), yakni kemampuan menikmati keadaan tanpa harus mengikuti seluruh informasi maupun aktivitas yang beredar di media sosial.

Mahasiswa juga disarankan lebih mengutamakan informasi dari kanal resmi universitas dibanding kabar yang belum tentu benar. Ketika mulai merasa cemas, melakukan self-talk atau dialog positif dengan diri sendiri dapat membantu mengelola emosi secara lebih sehat.

Manfaatkan Dukungan dari Kampus dan Keluarga

Selain teman sebaya, dukungan dari dosen pembimbing akademik dan keluarga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental mahasiswa.

Dewi mendorong mahasiswa baru mengenal dosen pembimbing akademiknya sejak awal, membangun komunikasi dengan teman satu kelompok bimbingan, serta menyampaikan perkembangan studi secara terbuka kepada orang tua.

Apabila kesulitan beradaptasi berkembang menjadi stres berkepanjangan, mahasiswa tidak perlu ragu memanfaatkan layanan pendampingan yang telah disediakan UNAIR, seperti Pusat Layanan Kesehatan (PLK), HELP CENTER, dan layanan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT). Informasi mengenai fasilitas tersebut telah diperkenalkan sejak kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PPKMB).

Mengakhiri pesannya, Dewi mengajak mahasiswa baru menikmati proses belajar sebagai kesempatan untuk bertumbuh, memperluas jejaring, dan membangun karakter.

“Bersyukurlah karena kalian telah menjadi mahasiswa di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Banyaklah mendengar, bertanya, namun sedikit berbicara untuk mengenali lingkungan yang dimasuki. Gunakan jurus tangguh, pantang menyerah, dan perbanyak teman serta jejaring sosial agar dapat berkembang dengan baik,” pungkasnya.

Example 468x60 Example 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *