Perjalanan kuliah Anis berjalan bersamaan dengan pekerjaannya sebagai petugas gizi di bawah naungan Pemerintah Kota Surabaya. Ia mulai bekerja pada Januari 2024 dan sempat ditempatkan di Puskesmas Krembangan Selatan.
Setelah mengikuti rolling penempatan dari Dinas Kesehatan, Anis kemudian bertugas di Puskesmas Sidotopo Wetan.
Bekerja sekaligus kuliah membuat Anis harus membagi waktu antara pekerjaan, perkuliahan, dan kegiatan praktik. Salah satu periode yang cukup berat terjadi ketika ia menjalani PKL di RS Bhayangkara selama satu bulan.
Setiap hari, setelah menyelesaikan pekerjaan di puskesmas sekitar pukul 14.30, Anis langsung melanjutkan kegiatan PKL di rumah sakit.
โCapek pasti, karena setelah pulang kerja jam setengah tiga, saya langsung lanjut PKL di rumah sakit. Itu berlangsung sekitar satu bulan, jadi memang harus pintar-pintar membagi waktu antara kerja dan kuliah,โ ujarnya.
Pengalaman di tempat kerja kemudian memberi manfaat ketika Anis menyelesaikan penelitian. Ia dapat menghubungkan materi yang diperoleh selama perkuliahan dengan kondisi di lapangan.
Anis juga melakukan pengambilan data penelitian di tempat kerjanya dengan mengikuti prosedur dan perizinan yang berlaku.
โUntungnya kuliah di UNUSA banyak yang dilakukan secara online, jadi lebih membantu saya dalam membagi waktu. Kalau ada praktik tetap harus datang langsung, tetapi pekerjaan di puskesmas juga bisa saya sesuaikan, termasuk ketika mengambil data untuk penelitian,โ jelas perempuan kelahiran 2001 itu.
Bagi Anis, pendidikan S1 yang ditempuh di Unusa juga memberikan perspektif baru terhadap bidang gizi. Pengetahuan tersebut kemudian dapat diterapkan dalam pekerjaannya.
โSetelah kuliah S1 di UNUSA, saya merasa mendapatkan perspektif baru tentang gizi. Jadi bukan hanya ilmu yang saya dapatkan saat D3, tetapi ada pemahaman baru yang kemudian bisa saya terapkan juga di tempat kerja,โ tuturnya.
Pada wisuda ke-22, sebanyak 1.038 mahasiswa Unusa diwisuda. Dari jumlah tersebut, terdapat 14 wisudawan non-Muslim. Sebanyak 11 orang atau 78,6 persen di antaranya meraih predikat lulus dengan sangat memuaskan.
Salah satu wisudawan tersebut adalah Meylani Fernanda Bessie asal Kupang. Ia merupakan anak tunggal sekaligus lulusan pertama di keluarganya.
Meylani memilih Unusa karena tersedia kelas Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), yang memudahkannya melanjutkan pendidikan sambil tetap bekerja. Selama menjalani perkuliahan, ia juga merasakan dukungan dan toleransi dari para dosen.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika ia diminta memimpin doa dengan tata cara agama Kristen Protestan sebelum perkuliahan dimulai.
โPengalaman saya yang paling mengesankan adalah ketika diminta memimpin doa dengan ajaran agama Kristen Protestan sebelum memulai perkuliahan,โ ungkap Meylani.



















