KILASJAVA.ID, SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) meresmikan Laboratorium Teknologi Aspal Buton Berkelanjutan sebagai fasilitas riset untuk memperkuat kemandirian bahan baku aspal nasional.
Laboratorium yang menjadi satu-satunya fasilitas sejenis di Indonesia ini dikembangkan untuk meningkatkan pemanfaatan aspal buton (asbuton) melalui teknologi hidrotermal dengan kemampuan pemisahan bitumen dari mineral hingga lebih dari 95 persen.
Rektor ITS Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, ST., MScEng., PhD, mengatakan peresmian laboratorium tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan riset anak bangsa di lingkungan ITS.
Fasilitas ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi asbuton sebagai sumber daya nasional yang selama ini memiliki nilai strategis bagi kebutuhan infrastruktur.
โMelalui fasilitas yang ada, kami ingin mengoptimalkan potensi asbuton sebagai sumber daya nasional,โ ujar Bambang.
Pengembangan laboratorium tersebut juga mendapat dukungan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI melalui skema LPDP Investasi. Dukungan tersebut diarahkan untuk membawa hasil penelitian menuju tahap hilirisasi, mulai dari skala pilot hingga pengembangan industri.
Bambang menyebut kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa riset yang dikembangkan ITS dari tahap hulu hingga hilir memiliki nilai strategis bagi pembangunan nasional.
Riset teknologi asbuton ini dipimpin oleh dosen Departemen Teknik Kimia ITS, Dr. Ir. Susianto, DEA, yang telah mengembangkan teknologi pemisahan asbuton sejak 2006.
Keahlian dalam bidang transfer fenomena menjadi dasar pengembangan proses perpindahan massa dan panas yang diterapkan dalam pengolahan asbuton.
Pada tahap awal penelitian, Susianto bersama tim menggunakan metode ekstraksi konvensional dengan pelarut hidrokarbon seperti kerosin, minyak tanah, dan pertasol. Namun, metode tersebut belum mampu menghasilkan kualitas pemisahan aspal yang sesuai dengan kebutuhan.
โProses tersebut belum menghasilkan kualitas pemisahan asbuton sesuai kebutuhan,โ kata Susianto.
Pengembangan kemudian dilanjutkan dengan metode hot water process pada 2009. Metode ini menggunakan tiga fase dengan hidrokarbon dan larutan kimia sebagai sealing agent untuk membantu menjaga bitumen yang telah terpisah agar tidak kembali menyatu dengan mineral.
Meski memberikan peningkatan kinerja pemisahan, proses tersebut masih membutuhkan waktu digesting atau pemasakan sekitar 30 menit. Hasil analisis mikroskopis yang dilakukan tim peneliti juga menunjukkan adanya ikatan kuat antara bitumen dan mineral dalam asbuton.
Menurut Susianto, kondisi tersebut dipengaruhi oleh kandungan kapur yang terlapisi aspal dan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan oil sand.
Temuan tersebut kemudian mendorong pengembangan metode hidrotermal sebagai tahap pretreatment. Teknologi ini dirancang untuk melemahkan ikatan antara bitumen dan mineral sekaligus membentuk lapisan pada antarmuka keduanya.
Melalui proses tersebut, efisiensi pemisahan bitumen dapat ditingkatkan hingga lebih dari 95 persen sehingga menghasilkan aspal dasar (base asphalt) dengan kualitas tinggi.
Setelah proses pemisahan, hidrokarbon yang digunakan kembali diekstraksi melalui vaporizer untuk dimanfaatkan pada proses berikutnya. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan dalam proses produksi.



















