KILASJAVA.ID, SURABAYA – Abdul Ghofur menyelesaikan pendidikan doktoral di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada usia 61 tahun. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu menjadi wisudawan tertua dalam Wisuda ke-134 ITS setelah menuntaskan studi S3 Ilmu Kelautan di Fakultas Teknologi Kelautan (FTK).
Gelar doktor tersebut diraih setelah Ghofur menjalani studi yang dimulai pada akhir 2022, di tengah kesibukannya bekerja sebagai peneliti. Setiap hari, ia bekerja dari pagi hingga sore, kemudian menggunakan waktu malam untuk belajar dan menyusun disertasi. Perjalanan itu mempertemukan pengalaman puluhan tahun di bidang rekayasa kelautan dengan penelitian teknologi energi terbarukan.
Disertasi Ghofur membahas pengembangan Short SPAR, struktur turbin angin lepas pantai terapung yang dirancang untuk perairan dangkal. Penelitian ini berangkat dari karakteristik perairan Indonesia yang banyak memiliki kedalaman sekitar 20โ25 meter.
Dalam riset tersebut, Ghofur menggabungkan pengalaman panjang di bidang hidrodinamika dengan analisis numerik dan pengujian struktur terapung di laboratorium. Ia menggunakan perangkat lunak Ansys Fluent untuk mendukung analisis penelitiannya.
โKarena terakhir kuliah itu 20-an tahun lalu, saya jadi mempelajari perangkat lunak baru seperti Ansys Fluent untuk mendukung analisis numerik dan pengujian struktur terapung di lab,โ kata Ghofur.
Ia mengombinasikan kalkulasi numerik dengan pengujian hidrodinamika menggunakan SPAR klasik yang dilengkapi heave plate dan viscous plate untuk meredam gerakan struktur. Penelitian tersebut mendapat dukungan fasilitas In-House Beasiswa Riset (IBR) BRIN, berupa bantuan pendanaan pengujian serta publikasi dari promotornya.
Perjalanan akademik Ghofur tidak dimulai dari bangku kuliah doktoral. Pada 1990, ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Teknik Kelautan ITS, sebelum memulai karier di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Ia kemudian memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan magister di Newcastle University, Inggris.
Pengalaman menempuh pendidikan di luar negeri menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan akademiknya. Ghofur harus beradaptasi dengan lingkungan baru, jauh dari keluarga, sekaligus menyesuaikan diri dengan budaya belajar yang berbeda.
โPerjalanan S2 ini yang benar-benar menggembleng saya, hidup di negara orang, jauh dari keluarga, dan harus menyesuaikan diri dengan budaya belajar orang-orang di sana,โ tuturnya.
Setelah kembali ke Indonesia, Ghofur melanjutkan pengabdiannya di bidang rekayasa dan teknologi kelautan, sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Kariernya berlanjut di BPPT hingga lembaga tersebut bergabung dengan BRIN pada 2021. Dalam perjalanan tugasnya di BRIN, ia mendapat mandat untuk menempuh pendidikan doktoral di ITS.
Ghofur kembali ke kampus pada 2022, setelah puluhan tahun berkecimpung dalam penelitian. Meski sempat merasa usianya tidak lagi muda untuk kembali menjalani perkuliahan, ia menerima mandat tersebut dengan penuh tanggung jawab.
โSyukurnya, karena bidang studi yang ditempuh tetap linier dengan pengalaman kerja saya, proses perkuliahan S3 di FTK ITS masih dapat saya jalani dengan lancar,โ ujarnya.
Pengalaman praktis yang diperoleh selama bertahun-tahun menjadi bekal penting dalam menjalani studi. Keselarasan antara bidang penelitian dan pekerjaannya turut membantu Ghofur menyelesaikan pendidikan doktoral tanpa hambatan berarti hingga dinyatakan lulus pada Wisuda ke-134 ITS.
Di lingkungan akademik, Ghofur juga menekankan pentingnya menjaga etika dalam hubungan antara mahasiswa dan dosen. Meski sejumlah pengajar dan promotornya berusia lebih muda, ia tetap menaruh rasa hormat kepada mereka.
Baginya, pendidikan tidak semata-mata bertujuan meningkatkan kecerdasan intelektual. Pendidikan juga berperan dalam membentuk adab, moral, dan karakter seseorang. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan usia maupun tantangan zaman sebagai alasan untuk mengendurkan kedisiplinan.
โSebagai mahasiswa, kita harus menjaga disiplin, tekun belajar, bekerja keras, dan menghindari kebiasaan yang memicu kemalasan,โ katanya.
Setelah meraih gelar doktor, Ghofur berencana kembali melanjutkan pengabdiannya sebagai peneliti di BRIN. Ia juga ingin mengembangkan riset Short SPAR dan berkontribusi dalam penelitian perlindungan pesisir Indonesia.
Perjalanan akademik Ghofur berkaitan dengan upaya mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan keempat mengenai pendidikan berkualitas.





















