KILASJAVA.ID, SURABAYA – Kekayaan biodiversitas Indonesia bukan sekadar warisan alam, tetapi juga sumber pengetahuan dan inovasi yang berpotensi mendapat pengakuan dunia.
Perspektif itu menjadi bagian penting dari perjalanan Sri Fatmawati, dosen Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yang terpilih sebagai International Science Council (ISC) Fellow 2026.
Fatma, sapaan akrabnya, tercatat sebagai ilmuwan Indonesia pertama yang terpilih dalam program tersebut. Pengakuan ini diberikan atas kontribusi ilmuwan dan insinyur yang dinilai luar biasa dalam menghubungkan sains dengan masyarakat.
ISC atau Dewan Sains Internasional merupakan organisasi sains global yang menghimpun sekitar 250 organisasi ilmiah dari berbagai negara.
Melalui program ISC Fellowship, organisasi tersebut memberikan pengakuan kepada para ilmuwan yang berkontribusi dalam memperkuat peran sains di tengah masyarakat.
Bagi Fatma, pencapaian ini merupakan hasil dari proses panjang yang mencakup penelitian fundamental, kolaborasi, inovasi, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Ia memilih mengembangkan potensi sumber daya hayati Indonesia melalui pendekatan ilmiah agar kekayaan lokal dapat menghasilkan pengetahuan yang relevan dalam percaturan sains internasional.
โKita tidak harus meninggalkan akar lokal untuk menjadi relevan secara global,โ tegasnya.
Perempuan kelahiran 1980 itu menekuni penelitian bahan alam, senyawa bioaktif, pengobatan tradisional, dan kimia medisinal. Risetnya menghasilkan publikasi internasional serta berbagai kekayaan intelektual.
Ia memandang penelitian bukan hanya sebagai upaya menghasilkan publikasi ilmiah. Lebih dari itu, penelitian perlu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk melalui pengembangan pengetahuan tradisional dan kekayaan hayati Indonesia menjadi bukti ilmiah serta inovasi yang dapat dimanfaatkan lebih luas.
โKeberhasilan riset tidak cuma diukur lewat publikasi, tetapi pada manfaatnya bagi masyarakat,โ ungkapnya.
Di luar aktivitas akademiknya di ITS, Fatma juga menjabat sebagai Direktur Indonesian Herbal and Horticultural Science Technology Park (TSTH2).
Peran tersebut menjadi salah satu ruang baginya untuk mendorong pengembangan penelitian yang berkaitan dengan kekayaan hayati dan produk berbasis sumber daya alam.
Ia melihat terpilihnya sebagai ISC Fellow 2026 sebagai peluang untuk memperluas kolaborasi di bidang biodiversitas, genomik, metabolomik, serta pengembangan produk herbal dan hortikultura.
Kerja sama tersebut diharapkan mampu memperkuat pengembangan potensi biodiversitas Indonesia sekaligus meningkatkan kapasitas peneliti muda.
Pengakuan internasional ini juga diharapkan memperluas keterlibatan ITS dalam jejaring sains global. Fatma berharap kesempatan tersebut dapat membuka ruang bagi kolaborasi penelitian, pertukaran peneliti dan mahasiswa, serta proyek lintas negara.
Menurut dia, kehadiran ilmuwan Indonesia dalam forum internasional penting agar perspektif dan potensi penelitian nasional turut berkontribusi dalam perkembangan sains dunia.
โSaya berharap semakin banyak ilmuwan kita hadir untuk memberikan perspektif dan andil dalam sains global,โ harap alumnus program doktoral Kyushu University, Jepang, tersebut.
Berasal dari Madura, Fatma berpegang pada prinsip โScience is a way of humanityโ. Prinsip ini menempatkan sains bukan semata-mata sebagai instrumen kemajuan, melainkan juga sebagai sarana untuk menghadirkan manfaat bagi manusia dan membangun kolaborasi.
Kiprahnya dalam penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan keempat tentang Pendidikan Berkualitas dan tujuan ke-17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.





















