Example 728x250
Keagamaan

Pesan Habib Jindan di Majelis Ar-Rohimin: Selagi Bernapas, Jangan Berhenti Beramal

9
×

Pesan Habib Jindan di Majelis Ar-Rohimin: Selagi Bernapas, Jangan Berhenti Beramal

Sebarkan artikel ini
Majelis Ar-Rohimin
Habib Jindan Bin Novel Bin Salim Bin Jindan (kanan) dan Habib Musthofa Bin Zein Al-Alydrus.

Namun, hal itu bukan berarti tidur, bekerja, makan atau beristirahat merupakan aktivitas yang sia-sia. Aktivitas sehari-hari dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar.

Persoalan utamanya adalah bagaimana manusia menggunakan waktu yang dimilikinya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Waktu yang telah berlalu, kata Habib Jindan, tidak dapat dikembalikan. Napas yang telah keluar tidak akan kembali sebagai napas yang sama. Menit yang berlalu tidak dapat diulang, sementara hari yang telah lewat tidak dapat dibeli kembali dengan seluruh harta yang dimiliki manusia.

Karena itu, jemaah diingatkan agar tidak terus menunda keinginan untuk memperbaiki diri.

Keinginan seperti menunggu tua untuk lebih rajin beribadah, menunggu memiliki waktu luang untuk menghadiri majelis, atau menunda taubat hingga hari berikutnya merupakan sikap yang perlu dihindari.

Tidak ada kepastian bahwa seseorang masih akan memiliki kesempatan pada hari berikutnya.

Majelis Ar-Rohimin
Jemaah muslimat Majelis Ar-Rohimin.

Selama napas masih diberikan Allah SWT, masih terdapat kesempatan untuk bertaubat, memperbaiki salat, menghadiri majelis ilmu, berbakti kepada orang tua, memperbaiki hubungan dengan sesama, memperbanyak zikir dan melakukan amal saleh.

Habib Jindan juga mengajak jemaah membayangkan keinginan seseorang yang telah meninggal dunia apabila diberi kesempatan kembali ke dunia. Kesempatan tersebut bukan untuk memperoleh tambahan harta, popularitas atau kesenangan, melainkan untuk kembali melakukan amal dan memperbaiki hal-hal yang sebelumnya disia-siakan.

Pesan itu menempatkan umur bukan sekadar sebagai angka, melainkan sebagai kumpulan waktu yang terus berkurang setiap detiknya.

Jemaah diajak tidak hanya bertanya berapa lama mereka telah hidup, tetapi juga untuk apa umur yang diberikan Allah SWT digunakan.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, pesan tersebut kembali mengarah pada fungsi majelis ilmu. Kehadiran di majelis tidak semestinya berhenti pada mendengar ceramah dan mencatat materi. Ilmu yang diperoleh perlu dibawa pulang dan diwujudkan dalam perilaku.

Menghormati ulama dan orang saleh dipraktikkan dalam kehidupan. Pengetahuan tentang muamalah yang halal diterapkan dalam transaksi.

Nasihat mengenai akhlak diwujudkan dalam hubungan dengan keluarga, tetangga dan masyarakat.

Majelis Arrohimin melalui kajian tersebut kembali menempatkan ilmu bukan sekadar sebagai pengetahuan, tetapi sebagai jalan untuk memperbaiki kehidupan.

Jemaah datang membawa ketidaktahuan, memperoleh ilmu, kemudian pulang dengan tanggung jawab untuk mengubah ilmu tersebut menjadi amal.

Selagi napas masih diberikan, kesempatan untuk memperbaiki diri masih terbuka. Shalat, zikir, ilmu, majelis, berbakti kepada orang tua, membantu sesama dan menjaga akhlak menjadi bagian dari amal yang dapat dilakukan selama kesempatan itu masih ada.

Habib Jindan mengajak jemaah agar tidak menunggu waktu luang untuk beribadah, melainkan menjadikan waktu yang tersedia sebagai kesempatan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 468x60