KILASJAVA.ID, SURABAYA – Sejumlah inovasi teknologi hasil riset sivitas akademika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dinilai memasuki fase yang siap diterapkan untuk menjawab berbagai persoalan lingkungan di Indonesia.
Mulai dari kendaraan tanpa awak, teknologi pengolahan sampah berbasis maggot dan superworm, komposter cepat, instalasi pengolahan air limbah, hingga platform digital ekonomi sirkular Siklusin mendapat perhatian langsung dari Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh. Jumhur Hidayat.
Dalam kunjungan kerja ke Kampus ITS, Surabaya, Senin (27/7/2026), Jumhur meninjau berbagai laboratorium dan produk inovasi yang dikembangkan kampus tersebut. Kunjungan itu bukan sekadar melihat hasil penelitian, tetapi juga membahas peluang pemanfaatan teknologi ITS dalam mendukung berbagai program strategis pemerintah, termasuk pengelolaan sampah nasional dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Usai peninjauan, Jumhur mengatakan berbagai inovasi yang lahir dari ITS memiliki tingkat kesiapan yang tinggi untuk diterapkan di lapangan.
Menurut dia, riset perguruan tinggi tidak cukup berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi harus mampu menjadi solusi nyata bagi persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Saya mendapat kesempatan bersilaturahmi dengan Pak Rektor dan jajaran pimpinan ITS. Saya melihat banyak keberhasilan pengembangan teknologi yang sangat potensial untuk diterapkan,” ujar Jumhur.
Salah satu inovasi yang menyita perhatian adalah kendaraan tanpa awak atau autonomous vehicle. Teknologi tersebut dinilai memiliki prospek luas untuk mendukung operasi di kawasan yang sulit dijangkau maupun memiliki tingkat risiko tinggi bagi manusia, seperti wilayah bencana, kawasan industri berbahaya, hingga daerah terpencil.
“Ke depan kendaraan seperti ini akan sangat berguna, terutama untuk daerah-daerah yang sulit atau berbahaya diakses manusia,” katanya.
Perhatian serupa diberikan pada teknologi pengolahan limbah berbasis maggot dan superworm. Jumhur menilai pendekatan tersebut sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang kini menjadi arah kebijakan pengelolaan lingkungan di Indonesia.
Pemanfaatan maggot mampu mengubah limbah organik menjadi biomassa bernilai ekonomi, sedangkan superworm memiliki potensi membantu mengurai beberapa jenis limbah plastik.
Kombinasi keduanya dinilai dapat mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan produk yang masih memiliki nilai komersial.
Inovasi lain yang mendapat apresiasi ialah komposter cepat ITS. Berbeda dengan metode konvensional yang membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga satu bulan, teknologi ini mampu mengolah sisa makanan menjadi kompos atau biofertilizer hanya dalam waktu kurang dari 10 jam.
Menurut Jumhur, teknologi tersebut sangat relevan diterapkan di kawasan perkotaan yang menghasilkan limbah makanan dalam jumlah besar, seperti hotel, restoran, pusat wisata, maupun fasilitas layanan publik.
“Produk akhirnya bahkan masih bisa dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif berbentuk pelet. Untuk skala kecil ini sangat baik, sementara untuk skala kota perlu pendekatan yang lebih besar, misalnya dikonversi menjadi energi pengganti batu bara,” ujarnya.










